Ketika Kesenian Diarahkan Menjadi Mata Pencaharian
Ada satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh Tuan R.M. Soewardi sebagaimana terdapat dalam buku “Kebudayaan dan Pendidikan/Seni” yang disusun oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu “Bagaimanakah jika seorang mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian?” Dan yang lebih menarik adalah pendapat beliau sendiri tentang pertanyaan tersebut,”Jika orang hendak mengarahkannya (kesenian) kepada mata pencaharian, maka akan rusak binasalah kesenian itu!”
Mungkin bagi kebanyakan orang pendapat tersebut terlalu berlebihan. Akan tetapi bila kita kaji lebih dalam, maka kita akan menemukan sesuatu yang sangat berarti. Untuk itu kita akan mencoba mengupas apa sebenarnya maksud dan tujuan dari pendapat tersebut.
Langkah awal adalah mengupas tentang tentang pertanyaan Tuan R.M.Soewardi dengan kata inti “mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian.” Ini berarti orang berusaha untuk menghidupi dirinya (dengan uang) hanya dengan bertumpu pada kesenian saja, dan kemudian timbul pikiran bagaimana kesenian bisa menghasilkan uang. Jika hal tersebut terlaksanakan, maka yang akan muncul kemudian adalah “kompromi”. Segala sesuatu bisa/mudah dikompromikan, asal mendatangkan uang. Bentuk kesenian, penambahan unsur di dalamnya, keasliannya, durasi waktu penyajian, orang-orang yang memainkannya sampai pada pen-distrosi-an kesenian itu sendiri semuanya bisa/mudah dibicarakan (dikompromikan). Nah, kalau sudah begini, maka fungsi dan tujuan yang paling mendasar kesenian dikalahkan oleh kepentingan pribadi untuk mendapatkan uang guna penghidupan diri sendiri.
Untuk Apa Kesenian?
Fungsi dan tujuan yang paling mendasar dari kesenian menurut pendapat Tuan R.M. Soewardi adalah untuk menghaluskan budi pekerti dengan contoh “sastra gending” Jawa. Sampai-sampai Sultan Agung mengeluarkan pernyataan, bahwa tidak akan mengakui keturunannya apabila tidak belajar “sastra gending” Jawa. Melalui “sastra” pikiran akan terasah. Melalui “gending” perasaan akan semakin halus. Sungguh dapat kita bayangkan pada saat Sultan Agung memerintah, perhatian terhadap kesenian (“sastra gending”) sangatlah total.
Langkah kedua adalah mengupas tentang pendapat Tuan R.M. Soewardi ” Jika orang hendak mengarahkannya kepada mata pencaharian, maka akan rusak binasalah kesenian itu.” Ada hal yang sangat menarik di sini, yaitu beliau tidak berpendapat dengan menggunakan kata-kata “mempergunakan kesenian sebagai mata pancaharian”, seperti pertanyaannya “Bagaimanakah jika orang mempergunakan kesenian sebagai mata pencaharian ?”, tetapi dengan kata-kata “hendak mengarahkannya”. Maknanya adalah jangankan mempergunakan, orang hendak mengarahkan kesenian sebagai mata pencaharian saja maka akan rusak binasalah kesenian itu. Dengan kata lain, baru niat saja (belum melakukan) dalam diri seseorang terhadap kesenian hal tersebut sangatlah besar akibatnya. Niat di sini dapat berarti positif maupun negatif, tetapi keduanya berpotensi besar terhadap kesenian itu sendiri. Keduanya berdampak pada kelangsungan, perkembangan dan kehidupan kesenian tersebut.
Kesenian sebagai Proses Belajar, Mengajar, dan Mendidik
Telah dijelaskan di atas mengenai fungsi dan tujuan yang paling dasar dari kesenian, yaitu memperhalus budi pekerti seseorang. Dengan cara apa dan bagaimana? Dalam hal ini dibutuhkan seorang yang dapat men-transformasi-kan kesenian kepada orang/seorang yang lain, yang berarti ada suatu pembelajaran, ada suatu pengajaran dan ada suatu pendidikan. Pembelajaran apa? Yaitu belajar mengenai bentuk kesenian, unsur-unsur pembentuknya dan gaya kesenian. Pengajaran yang bersifat bagaimana? Pengajaran tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian itu. Kemudian pendidikan yang bagaimana? Pendidikan tentang sikap, prilaku, perkataan, pikiran dan perbuatan terhadap kesenian yang berdampak pada hal-hal lain di luar kesenian.
Lalu bagaimanakah dengan penyajian? Bukankah di situ terdapat apresiator? Bagaimanakah apresiator dapat tersentuh dengan ketiga hal tersebut (pembelajaran, pengajaran dan pendidikan)? Kembali lagi pada niat seseorang terhadap kesenian. Kalau dia berniat belajar kesenian dalam cakupan ketiga hal tersebut di atas, maka apabila hanya salah satu unsur dari ketiga hal tersebut saja yang dapat ditangkap oleh apresiator, kita patut bersyukur. Selain itu bukan hanya sekali dua kali saja penyajian itu dilaksanakan, tetapi ini dapat dilakukan secara berkesinambungan. Yang harus digarisbawahi adalah penyajian itu sendiri. Pemahaman penyajian di sini bisa berarti “penyajian” di depan kelas, “penyajian” dalam kelompok kecil, “penyajian” pada 2 atau 3 orang yang dapat dilakukan atas dasar niat yang mencakup ketiga hal tersebut, yaitu pembelajaran, pengajaran dan pendidikan.
Ketika Kesenian Menjadi Pekerjaan
Sesuai judul di atas, “Kesenian sebagai mata pencaharian”, bagaimanakah dengan guru kesenian? Bukankah itu merupakan mata pencaharian/pekerjaan? Guru (dalam hal ini mau guru TK, guru SD, SMP,SMA sampai dosen maupun professor disebut guru) adalah predikat! Pekerjaannya adalah belajar, mengajar dan mendidik! Medianya adalah kesenian! Sangatlah jelas, bahwa kesenian digunakan sebagai media untuk mendidik yang berarti memperhalus budi pekerti seseorang (peserta didik) yang akan berdampak pada hal-hal lain di luar kesenian dalam kehidupan yang lebih luas.
Tulisan oleh Henry Virgan Tanasale
terbitan ulang dari Onesgamelan’s Weblog sejak 27 Januari 2009
Sumber
https://onesgamelan.wordpress.com/2009/01/27/kesenian-sebagai-mata-pencaharian/#more-315

Tinggalkan Balasan