
Sabtu, 5 September 2026, Tennis Indoor Senayan, Jakarta, menjadi sebuah momen perayaan satu abad usia Siti Rahmiati Hatta. Perayaan puncak ini bertajuk RUMAH, sebuah pertunjukanyang juga menjadi karya kolaboratif berkonsep fashion performance art yang diselenggarakan oleh Yayasan Meutia Hatta Swasono, dan disutradarai oleh dramawan senior Wawan Sofwan.
Di atas panggung terserbut, sejarah kehidupan Rahmi Hatta diterjemahkan melalui rangkaian pertunjukan sepanjang 100 menit yang mehadirkan fashion show koleksi busana Ibu Rahmi Hatta, Monolog & Puisi, serta penampilan musik. Di antara berbagai elemen tersebut, musik menjadi salah satu lapisan yang bekerja membangun suasana sekaligus menghubungkan cerita masa lalu dengan pengalaman penonton hari ini. Rangkaian musik tersebut dirancang oleh Kurnia Eka Fajar sebagai Music Director/Penata Musik bersama Larasonic Ensemble dalam membangun suasana dramatur pertunjukan RUMAH tersebut.

Untuk membangun perjalanan tersebut, musik tidak sekadar ditempatkan sebagai pengiring. Ia menjadi bagian dari cara pertunjukan menghadirkan kembali suasana Indonesia pada masa ketika Rahmi Hatta dan Mohammad Hatta menjalani kehidupannya. Pertunjukan ini juga membawa penonton menelusuri perjalanan hidup Rahmi Hatta melalui gagasan tentang rumah. Rumah tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang tempat kasih sayang, karakter, pengetahuan, nilai, dan keteladanan tumbuh serta diwariskan.
Membaca Zaman melalui Musik
Salah satu titik pemberangkatan konsep musikal dalam pertunjukan RUMAH adalah musik yang hidup pada zaman Indonesia lama, tepatnya saat di mana Rahmi Hatta dan Mohammad Hatta bersama. Gamelan dan keroncong menjadi bagian dari lanskap musikal Indonesia yang popular pada masa tersebut. Referensi terhadap keduanya kemudian menjadi salah satu dasar bagi Larasonic Ensemble dalam merancang komposisi musik yang akan disajikan pada pertunjukan tersrbut. Namun, menghadirkan kembali musik dari sebuah zaman bukan berarti mengulang bentuknya secara persis.
Tantangannya justru terletak pada bagaimana karakter musikal tersebut dapat hadir dalam sebuah pertunjukan yang memiliki format dan kebutuhan artistik di masa kini. Karena itu, Larasonic Ensemble tidak membawa pertunjukan menjadi konser gamelan atau keroncong. Musik dalam pertunjukan RUMAH justru dirancang melalui pertemuan sejumlah instrumen dan pendekatan, termasuk format string ensemble, combo, serta elemen gamelan.
Di sinilah kerja musikal menjadi menarik. Tradisi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi salah satu sumber bahasa dalam membangun komposisi. Gamelan, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai penanda visual atau bunyi yang mengidentifikasi “Budaya Indonesia”. Unsur pelarasannya turut menjadi pertimbangan dalam rancangan musikal. Meskipun keseluruhan bentuk musik bergerak dalam karakter ensemble yang lebih dekat dengan orkestra string dan combo, beberapa aspek tuning tetap mengacu pada sistem pelarasan gamelan.
Pilihan tersebut membuat hubungan dengan tradisi tidak berhenti pada penggunaan instrumen. Karakter bunyi dan persoalan laras ikut menjadi bagian dari proses penciptaan. Dengan pendekatan itu, Laras Sonic Ensemble mencoba mempertahankan jejak musikal tradisi sekaligus memberikan ruang bagi bunyi tersebut untuk bekerja dalam konteks pertunjukan yang baru.
Bukan Sekadar Musik Pengiring
Dalam pertunjukan multidisipliner seperti dalam pertunjukan RUMAH ini, musik memiliki posisi yang cukup kompleks. Ia harus berinteraksi dengan cerita, monolog, puisi, gerak, busana, hingga visual panggung. Karena itu, musik tidak cukup hanya “bagus” secara musikal. Ia harus mampu mengikuti perubahan emosi dan dramaturgi pertunjukan.
Perjalanan hidup Rahmi Hatta yang terbagi ke dalam fase masa muda, kehidupannya sebagai pendamping Mohammad Hatta, hingga tumbuh menjadi sosok perempuan yang berdaya dan memberi pengaruh bagi keluarga serta masyarakat. Hal ini membutuhkan perubahan suasana musikal yang mendalam. Musik kemudian menjadi bagian dari dramaturgi yang membantu penonton berpindah dari satu pengalaman ke pengalaman berikutnya. Dalam konteks tersebut, Larasonic Ensemble mengambil peran yang lebih besar daripada sekadar kelompok yang memainkan komposisi musik. Mereka menjadi bagian penting dari artistik sebuah pertunjukan.
Musik harus tahu kapan menjadi latar, kapan menjadi penguat adegan, dan kapan mengambil ruang sebagai pengalaman yang berdiri sendiri. Pertemuan musik dengan monolog Maudy Koesnaedi, puisi Prilly Latuconsina, tari, serta peragaan busana membuat bunyi harus terus bernegosiasi dengan medium lain. Setiap elemen memiliki ruangnya sendiri, tetapi semuanya diarahkan menuju satu pengalaman yang sama.
Lagu-Lagu Lama dalam Bunyi yang Baru
Salah satu kekuatan musikal dalam pertunjukan RUMAH hadir melalui pengolahan lagu-lagu yang berhubungan dengan zaman kemerdekaan. Lagu-lagu tersebut membawa beban sejarah sekaligus ingatan kolektif. Namun ketika lagu yang telah dikenal selama beberapa generasi dimainkan kembali, tantangannya adalah bagaimana membuatnya tetap memiliki kedekatan emosional tanpa kehilangan konteks sejarahnya.
Larasonic Ensemble menjawabnya melalui aransemen yang lebih segar dan kolaborasi dengan musisi populer lintas generasi serta latar musikal yang berbeda. Iwan Fals menyanyikan Lagu Ibu & Bung Hatta, Isyana Sarasvati menyanyikan Sepasang Mata Bola, Vicky Mono menyanyikan Gugur Bunga, serta Indonesia Pusaka yang dinyanyikan oleh semuanya. Penyanyi ini hadir membawa karakter masing-masing ke dalam repertoar tersebut.

Di sini terjadi pertemuan yang menarik, lagu yang lahir dari konteks sejarah tertentu bertemu dengan cara bernyanyi dan karakter musikal yang dimiliki musisi masa kini. Hasilnya bukan sekadar nostalgia. Lagu-lagu tersebut memperoleh kesempatan untuk didengar kembali oleh penonton dalam bentuk yang berbeda. Masa lalu tidak direkonstruksi secara utuh, tetapi ditafsirkan ulang melalui bahasa musikal hari ini.
Musik sebagai Ruang Ingatan
Jika busana dalam pertunjukan RUMAH menjadi sebuah arsip visual, musik dapat menjadi arsip bunyi yang membawa penonton lebih dekat pada suasana Indonesia pada zaman Rahmi Hatta. Larasonic Ensemble menerjemahkan gagasan tersebut melalui perpaduan musikal seperti gamelan, string ensemble, dan combo, dengan tetap mempertahankan beberapa karakter yang berakar dari unsur tradisi.
Penggunaan unsur gamelan dan referensi keroncong tidak sekadar menjadi penanda budaya, tetapi menjadi upaya dalam mempertemukan warisan musik masa lalu dengan bahasa musik masa kini. Begitu pula lagu-lagu dari zaman kemerdekaan yang dihadirkan melalui aransemen baru dan kolaborasi musisi lintas generasi, sehingga repertoar lama memperoleh pengalaman dengar yang lebih segar.
Melalui pendekatan tersebut, Larasonic Ensemble menempatkan tradisi bukan sebagai bentuk yang hanya perlu disimpan, tetapi sebagai sumber musikal yang dapat diolah dan ditafsirkan kembali. Musik akhirnya menjadi ruang tempat sejarah, ingatan, dan bunyi masa lalu bertemu dengan pengalaman penonton hari ini. Dalam konteks pertunjukan RUMAH, musik bukan sekadar pengiring cerita, melainkan bagian penting dari cara menghidupkan kembali sebuah warisan. Masa lalu tidak hanya diceritakan, tetapi dapat didengarkan kembali.
Ditulis oleh Wildan Waliyudin

Tinggalkan Balasan