
Setelah era kepopuleran Mang Koko pada dekade 1940–1980-an melalui berbagai pembaruan musikalnya yang salah satunya dilakukannya terhadap instrumen kacapi, Dedy Satya Hadianda seolah melanjutkan tongkat estafet eksplorasi tersebut dengan pendekatan yang berbeda. Sebagai seorang komponis, Dedy tidak bekerja semata pada permukaan estetika, melainkan menyentuh wilayah yang lebih mendasar, seperti struktur musikal, teknik permainan, hingga cara berpikir terhadap bunyi itu sendiri.
Dalam upaya ini, ia tidak hanya mempertahankan tradisi apa yang menjadi tradisi dalam karawitan sunda, tetapi juga membongkar, membaca ulang, dan membangun kemungkinan-kemungkinan musikal baru dari dalam tubuh tradisi itu sendiri.
Tradisi Sebagai Fondasi, Bukan Batas
Dedy Satya Hadianda yang akrab dipanggil Papap lahir 1 Juni 1964 di Bandung, dan mulai mempelajari kacapi sejak usia sekolah dasar. Ia melanjutkan studi di ASTI Bandung (sekarang ISBI Bandung) dan berguru langsung kepada Mang Koko juga dalam perjalannya studi, ia mendapat pengaruh besar dari kakaknya, Dody Satya Ekagustdiman yang juga bergelut dalam ranah eksplorasi musik. Dari akar tradisi inilah ia membangun pemahaman mendalam mengenai karawitan Sunda. Namun yang jarang diulik dari perjalanan artistiknya adalah bagaimana Dedy justru melihat tradisi sebagai fondasi eksplorasi, bukan ruang yang harus dipertahankan secara beku.
Dalam sejumlah wawancara dan catatan akademik, ia dikenal sebagai musisi yang banyak mengapresiasi teknik-teknik permainan musik Barat, lalu mencoba mengadaptasinya ke dalam instrumen kacapi. Pendekatan ini kemudian melahirkan berbagai teknik permainan yang tidak lazim dalam praktik kacapi tradisional, seperti glissando, bending, tremolo, palm mute, arpeggio, hingga staccato.
Hal yang menarik, adaptasi tersebut tidak membuat musiknya kehilangan identitas Sunda. Justru sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa kacapi memiliki kemungkinan teknis yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dipahami.
“Anggana”: Ketika Kacapi Berdiri Sendiri
Salah satu karya paling penting dalam perjalanan kreatif Dedy adalah Anggana, komposisi solo kacapi yang dibuat sekitar akhir 1980-an. Karya ini sering disebut sebagai salah satu komposisi solo kacapi utuh pertama dalam dunia karawitan Sunda. Sebab biasaya dalam karya musikal karawitan, hampir selalu berkaitan dengan unsur lain seperti vokal, atau iringan lainnya dalam format ensambel besar atau kecil.
Yang jarang dibahas, Anggana sebenarnya bukan hanya eksperimen bentuk, tetapi juga sebuah perubahan cara pandang terhadap instrumen tradisi. Dalam karya tersebut, Dedy memperlakukan kacapi layaknya instrumen solo dalam tradisi musik klasik modern dengan pembangunan dramatika, pengembangan tema, movement, hingga eksplorasi teknik permainan yang sangat detail. Bahkan dalam analisis akademik terhadap karya ini disebutkan bahwa Anggana memiliki pendekatan struktur yang dapat disejajarkan dengan logika sonata atau fuga dalam musik Barat.
Menariknya lagi, karya ini awalnya tidak pernah ditulis atau ditranskrip secara formal. Selama bertahun-tahun, Anggana hanya hidup dalam ingatan Dedy sebelum akhirnya diajarkan kembali kepada muridnya Sofyan Triyana pada 2016 dan kemudian direkam ulang.
Fakta tersebut memperlihatkan bagaimana proses penciptaan dalam tradisi karawitan sering berjalan melalui ingatan tubuh dan pengalaman musikal, bukan semata dokumentasi tertulis.
Zithermania: Eksperimen yang Terlalu Maju pada Zamannya

Sebelum Nalamoteka lahir, Dedy terlebih dahulu dikenal melalui Ensemble Zithermania yang aktif sejak 1990-an. Yang menarik, Zithermania sebenarnya termasuk salah satu kelompok yang cukup awal mencoba membaca instrumen-instrumen tradisional Nusantara dalam pendekatan komposisi kontemporer.
Pada masa ketika istilah “world music” mulai populer, Dedy justru mencoba melampaui kategori tersebut. Dalam catatan Bentara Budaya, Dedy pernah menyebut bahwa
pendekatan musikal semacam itu “tidak cukup” jika hanya berhenti sebagai world music.
Ia menginginkan musik dikerjakan tidak hanya dengan intuisi, tetapi juga melalui kesadaran intelektual dan eksplorasi kompositorik. Pernyataan ini penting karena memperlihatkan posisi artistiknya, Dedy tidak sekadar ingin membuat musik tradisi terdengar modern, tetapi ingin membangun sistem berpikir baru terhadap komposisi musik tradisi itu sendiri.
ALBUM NGIGAU (REMASTERED 2025)
Zithermania juga menarik karena fokusnya pada instrumen berdawai tradisional atau zither. Dari sini terlihat ketertarikan Dedy terhadap resonansi, tekstur, dan kemungkinan timbral dari instrumen petik Nusantara.
Malire dan Perluasan Sumber Bunyi

Ketika Zithermania bertransformasi menjadi Malire sekitar 2009, pendekatan musikal Dedy juga berubah. Jika sebelumnya fokus pada instrumen berdawai, Malire mulai memperluas eksplorasi ke berbagai sumber bunyi lain. Pendekatan ini memperlihatkan ketertarikannya terhadap bunyi sebagai material artistik yang sangat terbuka.
Dalam salah satu wawancara akademik, Dedy bahkan pernah menyatakan bahwa
segala sesuatu yang berbunyi sebenarnya dapat menjadi instrumen musik, tergantung bagaimana imajinasi seorang komponis mengolahnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa praktik artistik Dedy sebenarnya dekat dengan semangat musik kontemporer modern, bunyi tidak lagi dipahami secara hierarkis antara musikal dan non-musikal. Karena itu, karya-karyanya sering terasa berada di antara karawitan, musik eksperimental, komposisi modern, dan eksplorasi bunyi.
Nalamoteka dan Pencarian Keselarasan Baru

Melalui Nalamoteka, eksplorasi Dedy memasuki fase yang lebih matang. Nama “Nalamoteka” berasal dari dua kata yaitu menala dan motekar. Menala berarti menyelaraskan bunyi, sedangkan motekar berarti kreatif. Dari sini saja sudah terlihat bahwa proyek ini bukan sekadar kelompok musik, melainkan ruang pencarian artistik.
Yang jarang dibahas dari Nalamoteka adalah keberaniannya menggali berbagai karakter tangga nada pentatonik Nusantara melalui medium kacapi Sunda. Pendekatan ini menarik karena Dedy tidak hanya memainkan laras sebagai sistem nada tradisional, tetapi mencoba membacanya sebagai sumber eksplorasi komposisi dalam ranah musik kontemporer.

Dalam pertunjukan-pertunjukannya, kacapi bisa terdengar sangat meditatif di satu sisi, tetapi juga agresif dan penuh ledakan ritmis di sisi lain. Struktur musikalnya bergerak bebas, kadang repetitif, kadang sangat improvisatoris. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa Dedy bukan hanya seorang pemain kacapi, tetapi seorang komponis yang berpikir tentang bunyi secara konseptual.
Virtuositas Hanyalah Gagasan
Hal lain yang sering luput dibahas adalah bahwa kekuatan Dedy sebenarnya bukan hanya pada kemampuan teknis bermain kacapi. Banyak musisi tradisi memiliki virtuositas tinggi, tetapi tidak semuanya mampu mengubah kemampuan itu menjadi bahasa artistik baru. Dedy justru menarik karena ia berhasil mengubah keterampilan teknis menjadi gagasan komposisi.
Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana teknik bukan sekadar demonstrasi kemampuan, tetapi bagian dari cara membangun dramatika musikal, ruang resonansi, dan pengalaman mendengar.
Karena itu, musik Dedy sering terasa reflektif. Ia tidak sekadar menunjukkan bahwa kacapi bisa dimainkan cepat atau rumit, tetapi memperlihatkan bagaimana bunyi tradisi dapat berbicara dengan cara baru.
Pustaka
Machlis, J. (1955). The enjoyment of music. W. W. Norton & Company.
Prier, E.-K. (2015). Ilmu bentuk analisa musik. Pusat Musik Liturgi.
Hardjana, S. (2018). Estetika musik. Art Music Today.
Sugiharto, B. (2020). Untuk apa seni? Pustaka Matahari.
Sunarto, B. (2013). Epistemologi penciptaan seni. IDEA Press.
Koesoemadinata, R. M. A. (1966). Ilmu seni raras. Pradnja Paramita.
Koesoemadinata, R. M. A. (1950). Pangawikan rinegaswara. Pradnja Paramita.
Andjani, K. (2022). Musik dan masyarakat. Marjin Kiri.
Sumardjo, J. (2000). Filsafat seni. Penerbit ITB.
Repository UPI – Kajian Musik Eksperimental dan Dedy Satya Hadianda

Tinggalkan Balasan