Ibu Tating Sariningsih: pesinden di Balik lagu “Oncom Gondrong” yang Terlupakan

kemunculan lagu “Oncom Gondrong”

Ada lagu yang tetap hidup meskipun sejarah tentang siapa yang pernah menyanyikannya perlahan berubah dalam ingatan masyarakat. Oncom Gondrong adalah salah satunya. Lagu ini hingga sekarang masih dikenal dan dinyanyikan kembali dalam berbagai bentuk pertunjukan musik Sunda. Akan tetapi, ketika lagu Oncom Gondrong disebut, ingatan
masyarakat pada masa kini lebih sering mengarah kepada nama Mamah Bungsu Bandung. Padahal, terdapat jejak rekaman yang menunjukkan adanya versi yang lebih awal dan melibatkan Ibu Tating Sariningsih.

Keterlibatan Ibu Tating Sariningsih dalam Oncom Gondrong diketahui melalui dua sumber utama dalam penelitian ini. Pertama, melalui wawancara langsung yang dilakukan penulis bersama Ibu Tating Sariningsih pada September 2025. Wawancara tersebut menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan keseniannya, pengalaman sebagai pesinden, serta keterlibatannya dalam dunia pertunjukan dan rekaman. Kedua, melalui penelusuran arsip rekaman yang dihimpun oleh Henk Dentoom dalam Madrotter Treasure Hunt. Pertemuan antara kesaksian pelaku dengan jejak arsip tersebut memberikan dasar untuk menempatkan Oncom Gondrong dalam perjalanan karier Ibu Tating Sariningsih.

Dalam arsip tersebut, Oncom Gondrong tercatat sebagai salah satu rekaman yang melibatkan Ibu Tating Sariningsih dan diiringi oleh Karawang Group. Rekaman tersebut diperkirakan diproduksi sekitar tahun 1980–1981. Rentang waktu tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa keberadaan Oncom Gondrong dalam perjalanan rekaman Ibu Tating Sariningsih sudah berlangsung beberapa tahun sebelum versi yang kemudian populer melalui nama Mamah Bungsu Bandung.

Sementara itu, versi Oncom Gondrong yang dibawakan Mamah Bungsu Bandung tercatat dirilis pada tahun 1987. Sejumlah sumber musik daring saat ini juga mencatat tahun 1987 sebagai tahun perilisan Oncom Gondrong versi Bungsu Bandung. Dengan demikian, terdapat jarak waktu sekitar enam hingga tujuh tahun antara produksi rekaman yang melibatkan Ibu Tating Sariningsih dengan rilisan Mamah Bungsu Bandung pada 1987.

Jejak yang terlupakan dibalik karya populer

Kronologi tersebut menjadi penting untuk melihat persoalan Oncom Gondrong secara
lebih hati-hati. Persoalannya bukan untuk mempertentangkan Ibu Tating Sariningsih dengan Mamah Bungsu Bandung, apalagi menentukan siapa yang lebih berhak atas lagu tersebut. Justru, perbedaan waktu tersebut menunjukkan bahwa sebuah lagu dapat memiliki perjalanan sejarah yang lebih panjang daripada satu versi yang kemudian paling dikenal oleh masyarakat.

Popularitas versi Mamah Bungsu Bandung pada 1987 kemudian membuat nama penyanyi tersebut semakin melekat dengan Oncom Gondrong. Dalam perkembangan berikutnya, lagu tersebut terus beredar dan dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan, keberadaan versi Bungsu Bandung masih dapat ditemukan dalam berbagai sumber musik hingga sekarang.

Di sisi lain, nama Ibu Tating Sariningsih tidak selalu muncul ketika masyarakat membicarakan Oncom Gondrong. Di sinilah persoalan ingatan musikal menjadi menarik. Lagu tersebut berhasil bertahan, tetapi tidak semua nama yang terlibat dalam sejarah awal peredarannya ikut bertahan dalam ingatan publik. Dengan kata lain, yang terus hidup adalah lagunya, sementara sejarah mengenai suara-suara yang pernah membawakan lagu tersebut dapat mengalami penyusutan.

Hal tersebut menjadi semakin menarik karena Oncom Gondrong bukanlah satu-satunya rekaman dalam perjalanan Ibu Tating Sariningsih. Sebelum dan sesudahnya, ia telah terlibat dalam berbagai produksi rekaman dan bekerja bersama sejumlah kelompok gamelan. Di antaranya Karawang Group pimpinan M.A. Dimyati, Budaya Group pimpinan Dudung Tamar, Lingkung Seni Simpay Wargi Galuh pimpinan Harry Meranty K., dan Ria Musik Group pimpinan A.S.

Karena itu, Oncom Gondrong sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai sebuah lagu yang pernah direkam oleh seorang pesinden. Ia dapat dibaca sebagai sebuah jejak perjalanan karier seorang seniman perempuan yang pada masanya memiliki posisi penting dalam ekosistem kesenian Sunda. Ibu Tating Sariningsih merupakan seorang pesinden yang telah mengalami perjalanan panjang dari panggung pertunjukan menuju industri rekaman, kemudian kembali menjalankan perannya sebagai pelaku sekaligus pengajar kesenian.

Mengingat kembali peran Ibu Tating Sariningsih

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa sejarah musik tidak selalu berjalan lurus. Sebuah lagu dapat direkam lebih dahulu oleh seorang seniman, kemudian hadir kembali melalui penyanyi lain, memperoleh popularitas baru, dan pada akhirnya lebih kuat diasosiasikan dengan versi yang datang kemudian. Proses semacam ini merupakan bagian dari dinamika kehidupan musik itu sendiri. Sebuah lagu tidak pernah benar-benar berhenti pada satu rekaman; ia dapat berpindah dari satu penyanyi ke penyanyi lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan dari satu konteks pertunjukan ke konteks yang berbeda.

Namun, perpindahan tersebut juga dapat menciptakan persoalan dalam ingatan sejarah. Ketika sebuah versi menjadi sangat populer, versi-versi sebelumnya dapat semakin jarang disebut. Dalam kasus Oncom Gondrong, kondisi tersebut membuat keberadaan Ibu Tating Sariningsih dalam sejarah awal lagu ini menjadi kurang dikenal.

Oleh karena itu, menghadirkan nama Ibu Tating Sariningsih bukanlah upaya untuk menghapus atau mengecilkan peran Mamah Bungsu Bandung. Sebaliknya, upaya ini adalah usaha untuk memperluas kembali ingatan terhadap perjalanan lagu tersebut. Jika versi Mamah Bungsu Bandung pada 1987 merupakan bagian penting dari sejarah popularitas Oncom Gondrong, maka rekaman Ibu Tating Sariningsih sekitar 1980–1981 juga merupakan bagian penting dari sejarah sebelumnya.

Dengan demikian, Oncom Gondrong dapat menjadi contoh bagaimana sejarah musik tradisi sering kali memiliki lapisan-lapisan yang tidak semuanya bertahan dalam ingatan publik. Ada suara yang kemudian menjadi sangat terkenal, tetapi ada pula suara yang lebih dahulu hadir dan perlahan terlupakan. Dalam konteks inilah dokumentasi terhadap Ibu Tating Sariningsih menjadi penting: bukan untuk menentukan siapa yang paling berhak atas sebuah lagu, melainkan untuk memastikan bahwa sejarah yang lebih panjang tidak berhenti pada nama yang paling populer.

Barangkali persoalan sebenarnya bukan bahwa masyarakat telah melupakan Oncom Gondrong. Justru sebaliknya, masyarakat masih mengingat lagunya. Yang perlahan hilang adalah ingatan mengenai siapa saja yang pernah memberikan suara kepada lagu tersebut dan bagaimana perjalanan lagu itu sebelum menjadi seperti yang dikenal hari ini.

Dan di antara jejak sejarah tersebut terdapat nama Ibu Tating Sariningsih seorang pesinden dari Ciamis yang pernah membawa Oncom Gondrong ke dalam dunia rekaman pada sekitar awal dekade 1980-an, jauh sebelum versi Mamah Bungsu Bandung dirilis pada 1987.

Tulisan oleh Galuh Ihsan Nazar

https://www.musictime.nl/artist/tating_sariningsih?utm_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *