Kenapa Indonesia Tidak Bisa Maju?: Kebodohan yang Tertanam dalam Lagu-Lagu Anak

Catatan Slamet Abdul Sjukur

Tepat pada hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2026, saya menemukan sebuah tulisan Slamet Abdul Sjukur yang diterbitkan dalam blog OnesGamelan pada 5 Januari 2009. Saya cukup terkejut ketika membaca judulnya yaitu “Kenapa Indonesia Tidak Bisa Maju?”. Awalnya saya mengira tulisan tersebut akan membahas persoalan Indonesia secara umum. Namun, dengan latar belakang Slamet sebagai komponis, saya menduga persoalan yang dibicarakan mungkin berangkat dari wilayah musik, penciptaan, atau kekaryaan, kemudian ditarik pada persoalan yang lebih luas.

Dugaan tersebut ternyata tidak sepenuhnya salah. Slamet justru membaca persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu lagu-lagu anak. Ia membedah lirik dan logika sederhana yang terdapat dalam beberapa lagu yang mungkin sejak kecil kita nyanyikan tanpa pernah mempertanyakannya. Bagi saya, bagian ini cukup mengganggu sekaligus menarik. Sebab, selama ini kita mungkin terlalu terbiasa menikmati lagu-lagu tersebut sebagai bagian dari masa kanak-kanak, sehingga tidak lagi memperhatikan detail-detail kecil yang ada di dalamnya.

Tentu saja, tulisan Slamet tidak serta-merta dapat dijadikan bukti bahwa lagu anak secara langsung menyebabkan Indonesia tidak maju. Klaim semacam itu masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian psikologi, pendidikan, musik, maupun ilmu sosial. Namun, sebagai sebuah catatan reflektif, gagasan Slamet menarik untuk dipikirkan kembali, apakah sesuatu yang terus-menerus kita dengarkan sejak kecil, meskipun terlihat sederhana, dapat ikut membentuk cara kita memahami dunia?

Ini Kekeliruan atau Pembodohan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika melihat beberapa contoh yang ia tulis, sebenarnya ada banyak contoh kasus, tetapi beberapa catatan ini yang menurut saya cukup relevan.

Catatan pada lagu Aku Seorang Kapiten:

“Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalau berjalan prok.. prok.. prok… aku seorang kapiten!”

Slamet memperhatikan adanya ketidakkonsistenan antara pedang dan bunyi langkah dalam lagu tersebut. Pada bait pertama disebutkan bahwa tokohnya memiliki pedang panjang, tetapi pada bagian berikutnya yang ditekankan justru bunyi langkah kaki: “prok.. prok.. prok”. Ia kemudian menawarkan kemungkinan lirik yang dianggap lebih sesuai. Jika yang ingin diceritakan adalah sepatu, misalnya, maka dapat dibayangkan lirik seperti “mempunyai sepatu baja, kalau berjalan prok.. prok.. prok”. Sebaliknya, jika yang ingin ditonjolkan adalah pedang panjang, maka bunyi yang muncul semestinya menggambarkan karakter pedang tersebut, misalnya “ndul.. gondal.. gandul” atau “srek.. srek.. srek”.

Sekali lagi, persoalannya bukan semata-mata apakah lagu tersebut benar atau salah. Yang menarik adalah bagaimana Slamet membaca hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Apakah sebuah gagasan memiliki kesinambungan dengan apa yang dikatakan sebelumnya? Apakah sesuatu yang kita ucapkan memiliki hubungan yang logis dengan tindakan yang digambarkan?

Pertanyaan semacam ini mungkin terlihat terlalu serius jika diterapkan pada lagu anak. Namun, justru karena lagu tersebut hadir berulang-ulang dalam masa pertumbuhan, menarik untuk mempertanyakan apakah kebiasaan menerima ketidakkonsistenan tanpa berpikir dapat menjadi bagian dari kebiasaan berpikir kita.

Slamet kemudian menyoroti lagu Bangun Tidur:

“Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..”

Catatannya sederhana tetapi cukup menggelitik. Setelah mandi, anak langsung diminta membersihkan tempat tidur. Padahal, secara praktis, bukankah seharusnya anak mengenakan pakaian terlebih dahulu sebelum membersihkan tempat tidur? Slamet membaca hal ini sebagai persoalan urutan atau keteraturan dalam menyelesaikan aktivitas. Tentu saja kita tidak dapat mengatakan bahwa lagu tersebut secara langsung membuat anak-anak menjadi tidak teratur. Namun, contoh ini kembali menunjukkan bagaimana sesuatu yang sangat sederhana dapat dibaca dari sisi lain, apakah urutan tindakan yang kita ajarkan kepada anak sudah masuk akal?

Bagi saya, bagian ini menarik bukan karena persoalan “mandi lalu membersihkan tempat tidur” itu sendiri, tetapi karena ia mengingatkan bahwa pendidikan anak tidak hanya berlangsung melalui nasihat formal. Hal-hal sederhana yang diulang setiap hari, termasuk lagu, cerita, permainan, dan kebiasaan, juga dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar anak. Dan yang perlu dikhawatirkan adalah paparan yang diterima anak dari hal-hal yang mungkin dianggap keliru dan terus diulang, maka lama-kelamaan akan menimbulkan kekeliruan yang terus menempel dan menjadi kebiasaan anak sampai ia besar.

Pada lagu Naik-Naik ke Puncak Gunung, Slamet kembali menemukan sesuatu yang ia anggap menarik:

“Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara..”

Menurut pembacaannya, lagu ini dimulai dengan semangat untuk mencapai puncak gunung yang tinggi. Namun, ketika sampai pada bagian “kiri kanan kulihat saja”, tokohnya seolah berhenti pada aktivitas melihat ke kiri dan kanan. Slamet kemudian membacanya sebagai gambaran tentang hilangnya konsentrasi, semangat, dan motivasi. Ada tujuan yang hendak dicapai, tetapi tindakan yang dilakukan kemudian tidak menunjukkan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Sekali lagi, saya tidak membaca ini sebagai hubungan sebab dan akibat yang sudah terbukti. Namun, sebagai metafora, gagasan tersebut cukup menarik, seberapa sering kita memiliki tujuan, tetapi kemudian kehilangan fokus ketika berhadapan dengan proses untuk mencapainya?

Dari semua contoh yang diberikan Slamet, bagian Nina Bobo menurut saya merupakan salah satu yang paling menarik untuk direnungkan:

“Nina bobo, oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk.”

Slamet mempertanyakan bagaimana anak-anak Indonesia selama bertahun-tahun dibiasakan tidur melalui lagu yang menggunakan ancaman. Anak diminta tidur bukan karena memahami bahwa tidur merupakan kebutuhan tubuh, tetapi karena ada konsekuensi yang menakutkan. Jika tidak tidur, akan digigit nyamuk. Di titik ini, persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar lirik lagu. Ia menyentuh cara orang dewasa menjelaskan sesuatu kepada anak.

Dalam pengalaman sosial kita, tidak jarang anak diminta melakukan sesuatu karena takut terhadap hukuman. Ketika anak bertanya “mengapa?”, jawabannya terkadang bukan penjelasan yang rasional, melainkan ancaman. Jangan melakukan ini karena nanti begini, jangan bertanya terlalu banyak, atau ikuti saja karena orang tua lebih tahu. Pola seperti ini tentu tidak dapat dibebankan hanya kepada lagu anak. Pola asuh, pendidikan keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, bahkan kondisi ekonomi dan budaya memiliki pengaruh yang jauh lebih kompleks. Namun, di sinilah catatan Slamet menjadi menarik untuk direnungkan. Lagu mungkin bukan penyebab utama, tetapi ia dapat menjadi salah satu bagian dari lingkungan budaya yang terus menemani proses pertumbuhan anak.

Jika sejak kecil seorang anak lebih sering diarahkan untuk patuh karena takut daripada memahami alasan di balik sebuah tindakan, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya perilakunya, tetapi juga pola pendidikan yang membentuk perilaku tersebut.

Apakah sejak Kecil Kita Dicetak Untuk Tidak Kritis?

Pada akhirnya, saya tidak membaca catatan Slamet Abdul Sjukur sebagai kesimpulan bahwa lagu-lagu anak adalah penyebab Indonesia tidak maju. Klaim tersebut sekali lagi perlu diuji kembali dan terlalu jauh jika tidak didukung penelitian yang memadai. Namun, saya justru melihat tulisan tersebut sebagai sebuah provokasi intelektual untuk memeriksa kembali hal-hal yang selama ini terlalu akrab bagi kita. Ada kemungkinan bahwa apa yang disebut sebagai “kebodohan” tidak selalu hadir dalam bentuk pengetahuan yang salah atau ketidakmampuan berpikir. Ia dapat hadir dalam bentuk kebiasaan kecil, membiarkan ketidaksesuaian, tidak mempertanyakan sesuatu, menerima jawaban tanpa penjelasan, atau menganggap persoalan kecil tidak layak dipikirkan.

Apakah kebiasaan tersebut benar-benar berasal dari lagu anak? Saya belum memiliki cukup bukti untuk mengatakan demikian. Bahkan, hubungan antara lagu yang didengar sejak kecil dengan pembentukan pola pikir merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks dan perlu dibuktikan melalui penelitian lintas disiplin. Tetapi pertanyaan Slamet tetap layak dibawa lebih jauh. Sebab, mungkin persoalannya bukan pada apakah Aku Seorang Kapiten, Bangun Tidur, Naik-Naik ke Puncak Gunung, atau Nina Bobo adalah lagu yang “buruk”. Persoalannya adalah mengapa kita begitu jarang mempertanyakan apa yang kita dengarkan, ajarkan, dan wariskan kepada anak-anak?

Barangkali inilah bagian paling penting dari catatan Slamet yang saya temukan kembali pada hari kemerdekaan tahun ini. Kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan secara politik, tetapi juga memiliki keberanian untuk berpikir, mempertanyakan, dan tidak menerima sesuatu begitu saja. Jika kebiasaan berpikir kritis memang perlu dibangun sejak dini, maka mungkin kita perlu mulai mengkaji kembali hal-hal yang selama ini dianggap terlalu sederhana untuk dipersoalkan. Termasuk lagu anak-anak yang kita nyanyikan sejak kecil. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk bertanya, apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan melalui hal-hal yang kita anggap sepele?

Tulisan oleh Wildan Waliyudin

Refleksi atas tulisan Slamet Abdul Sjukur dalam blog OnesGamelan yang terbit 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *