
Relasi antara tradisi dan modernitas dalam musik Indonesia kerap dipahami secara biner, di satu sisi pelestarian yang cenderung membekukan bentuk, di sisi lain modernisasi yang dianggap mengikis identitas. Dikotomi semacam ini justru dipersoalkan oleh Krakatau Band. Sejak kemunculannya pada dekade 1980-an, Krakatau tidak menempatkan tradisi sebagai warisan yang harus direplikasi secara utuh, melainkan sebagai sumber material estetik yang terbuka terhadap tafsir ulang. Pendekatan ini menjadikan Krakatau sering diposisikan sebagai entitas yang progresif bahkan kontroversial dalam wacana musik tradisi Indonesia.
Awal Mula Pendirian
Krakatau didirikan pada tahun 1986 di kediaman Pra Budidharma di kawasan Cipaganti, Bandung, atas prakarsa Pra Budidharma dan Donny Suhendra. Formasi awal band ini terdiri dari Dwiki Dharmawan (keyboard dan vokal), Donny Suhendra (gitar), Pra Budidharma (bass), serta Budhy Haryono (drum). Dalam perkembangannya, Krakatau kemudian diperkuat oleh Trie Utami sebagai vokalis dan Indra Lesmana yang mengisi instrumen keyboard tambahan.

Kehadiran Krakatau tidak dapat dilepaskan dari konteks musik urban Indonesia pada dekade 1980-an, ketika jazz fusion, pop progresif, dan musik instrumental mulai tumbuh di kalangan musisi dengan latar pendidikan musik formal maupun semi-formal. Dalam lanskap tersebut, Krakatau mula-mula dikenal sebagai band fusion, namun sejak awal telah menunjukkan kecenderungan untuk tidak sepenuhnya mengikuti arus dominan jazz Barat, melainkan mencari kemungkinan ekspresi musikal yang lebih kontekstual dengan tradisi lokal.
Berbeda dari banyak kelompok fusion sezamannya, Krakatau secara sadar memilih tradisi Sunda sebagai pijakan utama eksplorasi musikal. Pilihan ini bukan sekadar latar geografis, melainkan sikap artistik yang melihat tradisi lokal sebagai sumber struktur musikal, bukan sekadar warna permukaan. Seiring perubahan formasi dari waktu ke waktu, visi ini tetap konsisten, tradisi diperlakukan sebagai ruang dialog kreatif, bukan sebagai objek nostalgia atau simbol identitas yang statis.
Eksplorasi Musikal




https://prabudidharma.bandcamp.com
Ditemukan sejumlah arsip rilisan Krakatau yang menunjukkan kuatnya eksplorasi unsur etnik dalam konsep musikal mereka. Arsip tersebut tersedia melalui kanal Bandcamp milik Pra Budi Dharma, yang memuat beberapa album penting seperti Mystical Mist (1994), Magical Match (2000), Rhythms of Reformation (2005), dan 2 Worlds (2006). Album-album tersebut menandai fase transformasi Krakatau dari kecenderungan jazz fusion populer menuju pendekatan ethno-jazz dan world music yang lebih eksperimental.
Dalam praktik komposisinya, Krakatau memadukan unsur-unsur musik etnik Nusantara khususnya karawitan Sunda dalam konsep musik jazz ala Krakatau. Eksplorasi tersebut tidak hanya tampak pada penggunaan instrumen tradisional seperti kendang, suling, rebab, tarompet, bonang, genjring, dan gamelan, tetapi juga pada pengolahan sistem laras seperti salendro, madenda, dan degung ke dalam instrumen Barat seperti piano dan keyboard. Dwiki Dharmawan bahkan melakukan penyesuaian tuning elektronik pada keyboard agar mampu mereplikasi karakter mikrotonal karawitan Sunda sehingga tercipta keseimbangan tonal dengan instrumen tradisional. Pendekatan ini menjadi salah satu ciri penting Krakatau dalam membangun dialog antara sistem musikal Barat dan tradisi lokal.
Eksplorasi tersebut menempatkan tradisi bukan sebagai bentuk yang harus direplikasi secara konservatif, melainkan sebagai sumber material kreatif yang dapat diolah, dinegosiasikan ulang, dan dikembangkan melalui pendekatan komposisi kontemporer. Krakatau memanfaatkan pola ritmis, warna bunyi, teknik vokal, hingga konsep laras tradisional sebagai basis penciptaan musikal baru.

Perubahan orientasi artistik Krakatau semakin terlihat sejak pertengahan 1990-an ketika mereka mulai melibatkan musisi tradisional seperti Yoyon Dharsono dan Ade Rudiana, yang merupakan lulusan ASTI Bandung (kini Institut Seni Budaya Indonesia Bandung). Kehadiran mereka memperkuat pendekatan etnik Krakatau, terutama dalam pengolahan ritme, improvisasi, dan karakter musikal Sunda dalam konteks jazz modern.
Penutup
Secara keseluruhan, praktik musikal Krakatau menunjukkan bahwa relasi antara tradisi dan modernitas tidak harus dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai ruang dialog kreatif yang produktif. Melalui pendekatan yang menempatkan tradisi sebagai sumber estetik yang dinamis, Krakatau berhasil membangun bahasa musikal hibrid yang tidak terjebak pada nostalgia maupun imitasi Barat.
Album-album seperti Mystical Mist, Magical Match, Rhythms of Reformation, dan 2 Worlds menjadi penanda penting bagaimana tradisi Sunda dan unsur etnik Indonesia lainnya diposisikan sebagai basis komposisi yang terus ditransformasikan secara artistik. Dengan pendekatan tersebut, Krakatau tidak hanya berkontribusi pada perkembangan musik fusion Indonesia, tetapi juga menawarkan model konseptual mengenai bagaimana tradisi dapat tetap hidup melalui proses reinterpretasi dan inovasi kreatif yang berkelanjutan.
Pustaka
Dharmawan, D. (2004). Gema musik Nusantara: Antara tradisi dan inovasi. Jakarta: Bentara Budaya.
Indolawas. (2008). Krakatau – Mystical Mist. Diakses darihttps://indolawas.blogspot.com/2008/05/krakarau-mystical-mist.html
Krakatau. (1994). Mystical Mist [Album rekaman]. Jakarta: Krakatau Production / Aquarius Musikindo.
Lindsay, J. (1992). Javanese gamelan: Traditional orchestra of Indonesia. Oxford: Oxford University Press.
Sutton, R. A. (1991). Traditions of gamelan music in Java: Musical pluralism and regional identity. Cambridge: Cambridge University Press.
Trigger.id. (2020). Signifikansi Krakatau band dalam musik jazz fusion dan tradisional Indonesia. Diakses darihttps://trigger.id/signifikansi-krakatau-band-dalam-musik-jazz-fusion-dan-tradisional/
WartaJazz. (2002). Krakatau tampil di Bansko International Jazz Festival. Diakses darihttps://wartajazz.com/news/2002/08/08/krakatau-tampil-di-bansko-internasional-jazz-festival/
Dharma, P. B. (n.d.). Mystical Mist. Bandcamp. Retrieved May 25, 2026, from https://prabudidharma.bandcamp.com/album/mystical-mist
Dharma, P. B. (n.d.). Rhythms of Reformation. Bandcamp. Retrieved May 25, 2026, from https://prabudidharma.bandcamp.com/album/rhythms-of-reformation
Dharma, P. B. (n.d.). 2 Worlds. Bandcamp. Retrieved May 25, 2026, from https://prabudidharma.bandcamp.com/album/2-worlds
Dharma, P. B. (n.d.). Magical Match. Bandcamp. Retrieved May 25, 2026, from https://prabudidharma.bandcamp.com/album/magical-match
Rainforest World Music Festival. (2024). Krakatau Ethno. Retrieved May 25, 2026.

Tinggalkan Balasan