
Karawitan sebagai Cara Berfikir
Dalam diskursus musik Indonesia, karawitan masih kerap dipahami sebagai praktik musikal yang melekat pada seperangkat instrumen tradisional seperti gamelan, kacapi, serta instrumen lainnya yang erat dengan unsur kedaerahannya serta repertoar karya yang diwariskan secara turun-temurun. Cara pandang tersebut lahir dari sejarah panjang karawitan sebagai tradisi yang berkembang dalam ruang sosial dan budaya khususnya di Nusantara. Akibatnya, identitas karawitan sering kali direduksi hanya pada bentuk-bentuk tersebut. Dan ketika perangkat instrumen tradisional tersebut tidak lagi digunakan atau ketika idiom musikalnya bertransformasi ke medium lain, praktik tersebut sering kali dianggap telah keluar dari wilayah karawitan.
Pandangan demikian sesungguhnya menyisakan persoalan konseptual. Apabila karawitan hanya dipahami melalui penggunaan instrumen dan repertoar tradisinya, bagaimana cara menjelaskan praktik-praktik musikal yang tetap memperlihatkan cara mengolah bunyi yang berakar pada gagasan-gagasan estetika karawitan? Apakah perubahan medium otomatis menghilangkan nilai estetikanya, atau justru membuka kemungkinan baru bagi tradisi karawitan untuk terus hidup? Dengan demikian, fokus pembahasan bergeser dari karawitan sebagai bentuk menuju karawitan sebagai cara berpikir musikal.
Pergeseran cara pandang tersebut sesungguhnya bukan tanpa landasan. Dalam kajiannya mengenai estetika karawitan Sunda, Heri Herdini menjelaskan bahwa estetika karawitan tidak hanya berada pada teks musikal, tetapi juga pada konteks budaya yang melatarbelakanginya. Karawitan dipahami sebagai ekspresi dari cara masyarakat Sunda memandang alam, kehidupan, dan hubungan antarmanusia. Dengan demikian, nilai estetik karawitan tidak cukup dipahami melalui laras, repertoar, ataupun perangkat instrumennya, tetapi juga melalui cara berpikir yang melahirkan praktik musikal tersebut.
Pemahaman tersebut sekaligus membuka ruang untuk melihat tradisi sebagai sesuatu yang terus bergerak. Andrew N. Weintraub menunjukkan bahwa musik Sunda senantiasa berkembang melalui proses negosiasi dengan perubahan sosial, pendidikan, media, dan perkembangan teknologi. Dalam perspektif ini, perubahan bentuk atau medium tidak selalu menandai putusnya hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, perubahan dapat dipahami sebagai salah satu cara tradisi mempertahankan keberlanjutan dan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Pengaruh Karawitan Sunda dan Agus Roekmana terhadap Musik Tiga Pagi
Salah satu contoh menarik dimana estetika karawitan bisa hidup dan bertransformasi pada medium non karawitan dapat kita ditemukan pada kelompok musik folkways asal Bandung, Tiga Pagi.
Selama ini Tiga Pagi dikenal melalui karya-karya yang banyak mengangkat tema sejarah, ingatan kolektif, dan kritik sosial. Album Roekmana’s Repertoire (2013), Sembojan (2015), Rukiah’s Suites (2024) misalnya, banyak dibaca sebagai refleksi atas tragedi kemanusiaan dan memori kolektif masyarakat Indonesia. Akan tetapi, proses kreatif kelompok ini justru menunjukkan hubungan yang berbeda antara musik dan narasi.
Dalam bincang Musik di Ruang Baca (Mahakarya Buku), Sigit vokalis Tiga Pagi menjelaskan bahwa komposisi musikal dalam karya Tiga Pagi hampir selalu lahir lebih dahulu daripada narasi yang kemudian dibangun melalui lirik. Artinya, komposisi musik Tiga Pagi tidak selalu diawali oleh sebuah isu sosial. Sebaliknya, struktur musikal terlebih dahulu diciptakan hingga membentuk ruang emosional tertentu, kemudian narasi dipilih dan disesuaikan agar selaras dengan pengalaman estetik yang telah tercipta.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa relasi antara musik dan narasi dalam karya-karya Tiga Pagi bersifat dialogis, bukan ilustratif. Musik tidak sekadar berfungsi sebagai media penyampai pesan, melainkan menjadi fondasi utama yang membentuk ruang estetik tempat narasi kemudian berkembang secara utuh. Cara kerja inilah yang menjelaskan mengapa karya-karya Tiga Pagi tetap menghadirkan atmosfer musikal yang kuat, bahkan ketika didengarkan tanpa memahami liriknya.
Cara kerja semacam ini memiliki kedekatan dengan praktik penciptaan dalam karawitan Sunda, di mana pengalaman rasa sering kali mendahului penjelasan verbal mengenai makna sebuah komposisi. Dalam tradisi karawitan, nilai estetik lahir melalui relasi antarbunyi dan pengalaman mendengar, sementara cerita tidak selalu menjadi titik awal penciptaannya.

Menggali hubungan musik Tiga Pagi dengan estetika karawitan Sunda semakin menarik ketika terdapat nama Agus Roekmana. Nama Roekmana yang digunakan sebagai judul album perdana bukan sekadar pilihan artistik, melainkan bentuk penghormatan kepada guru gitar mereka.
Dalam beberapa wawancara, Sigit menjelaskan bahwa album Roekmana’s Repertoire dipersembahkan sebagai penghargaan dan tribute kepada Agus Roekmana, mentor yang selama bertahun-tahun membimbing perjalanan musikal para personel Tiga Pagi. Sosok Agus Roekmana dikenal luas di lingkungan karawitan Sunda karena eksplorasinya dalam mengadaptasi teknik-teknik permainan gamelan degung ke dalam permainan gitar klasik, hasil eksplorasinya memperlihatkan bahwa estetika karawitan Sunda bisa hidup dalam medium apapun tidak hanya bergantung pada format dan bentuk-bentuk lama.
Selain itu, Sigit juga mengungkapkan pada salah satu bincang daring bahwa pada masa awal pembentukan identitas Tiga Pagi ia mendapat semacam panggilan untuk menghadirkan kembali warna musikal Sunda ke dalam lanskap musik populer. Panggilan tersebut bukan dilandasi keinginan menjadikan Tiga Pagi sebagai kelompok musik tradisi, melainkan oleh kegelisahan bahwa laras-laras Sunda dan warna pentatoniknya semakin jarang terdengar di ruang dengar generasi muda. Karena itu, eksplorasi musikal yang mereka lakukan dapat dipahami sebagai upaya mempertemukan kembali sensibilitas musik Sunda dengan bahasa musik populer yang lebih akrab bagi pendengar masa kini.
Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bahwa perhatian Tiga Pagi sesungguhnya tidak diarahkan pada reproduksi bentuk-bentuk karawitan, melainkan pada pengalaman mendengar yang dibentuk oleh estetika karawitan Sunda. Dengan demikian, yang diupayakan bukanlah pelestarian dalam pengertian konservatif, melainkan penciptaan ruang baru agar idiom musik Sunda tetap hadir dan beresonansi dalam lingkup pasar musik yang lebih luas.
Membaca Ulang Estetika Karawitan Sunda di Tengah Perkembangan Musik Populer
Melalui praktik musikal yang Tiga Pagi kerjakan, kita dapat melihat bahwa estetika karawitan tidak selalu hadir melalui bentuk-bentuk lama yang selama ini dianggap sebagai representasi karawitan Sunda. Justru yang terus hidup adalah cara berfikrinya dalam mengolah bunyi, membangun rasa, mengatur relasi antarsuara, serta memandang musik sebagai pengalaman estetik. Dalam konteks ini, Tiga Pagi tidak sedang memainkan laras karawitan Sunda sebagai sebuah gaya musikal, melainkan juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai estetika karawitan dapat hidup dalam medium musik yang berbeda.
Pembacaan tersebut mengajak kita untuk meninjau ulang cara memahami estetika karawitan. Selama ini, pembahasan karawitan masih banyak bertumpu pada instrumen, laras, dan repertoar. Pendekatan tersebut tentu penting sebagai upaya menjaga keberlangsungan tradisi. Namun, ketika pelestarian lebih berfokus pada mempertahankan bentuk daripada memahami nilai-nilai estetik yang melandasinya, karawitan berisiko diposisikan sebagai warisan yang statis. Padahal, agar tetap relevan, tradisi juga memerlukan ruang untuk ditafsirkan, dipraktikkan, dan dikembangkan sesuai dengan dinamika zamannya.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “apakah musik ini termasuk kedalam jenis musik karawitan?”, melainkan “bagaimana cara berpikir yang mereka lakukan dengan memasukan estetik karawitan kedalam praktik musikalnya?” Pergeseran cara pandang ini tidak dimaksudkan untuk memperluas definisi karawitan secara serampangan atau mengaburkan batas antara tradisi dan musik populer. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan untuk memahami bahwa tradisi juga diwariskan melalui pengalaman estetik, kebiasaan musikal, proses kreatif, dan cara para pelakunya memaknai bunyi.
Di sinilah tantangan bagi para pemikir dan praktisi karawitan pada masa kini. Upaya menjaga tradisi tidak cukup berhenti pada pelestarian bentuk, tetapi juga perlu diiringi dengan keberanian membaca kembali nilai-nilai estetik yang hidup di dalamnya. Dengan demikian, karawitan tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga sebagai cara berpikir musikal yang tetap relevan untuk dibaca, dipraktikkan, dan dikembangkan dalam berbagai konteks musikal.
Pada akhirnya, yang perlu dibaca ulang bukanlah posisi Tiga Pagi di dalam ranah karawitan, melainkan tentang bagaimana cara kita memahami estetika karawitan itu sendiri. Sebab, tradisi tidak bertahan karena bentuknya selalu sama, melainkan karena cara berpikir yang melahirkannya terus menemukan medium-medium baru untuk hidup.
Tulisan oleh Wildan Waliyudin
Sumber
- Herdini, H. (2012). Estetika karawitan tradisi Sunda. Panggung, 22(3). https://doi.org/10.26742/panggung.v22i3.75
- Weintraub, A. N. (2004). Power Plays: Wayang Golek Puppet Theater of West Java. Ohio University Press.
- Montase Pikiran. (2015, January 22). Bicara soal Tigapagi dan Roekmana-nya.
- Pecinta Musik Indie. (2016, January 14). Biografi Tigapagi.
- Pophariini. (2023, October 7). 5 Pertanyaan Sigit Tigapagi: 10 tahun Roekmana’s Repertoire.
- Sendal Biruku. (2014, October 13). Ulasan Grup Musik: Tigapagi (Roekmana’s Repertoire; Konsep Kesegeraan yang (Terkadang) Menjengkelkan).
- The Rock Journals. (2013, December 28). Tigapagi – Roekmana’s Repertoire: Debut Album Cerdas dengan Konsep Repertoar.
- Borderless Scene Entertainment. (2022, January 24) Sejarah Tigapagi Feat Bottlesmoker: Isu Bubar dan Musik di Era Pandemi [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=eudluzZIISk
- Smiljan Space. (2026, February 12) Musik di Ruang Baca Vol. 04 | TIGAPAGI | Live at Smiljan Makarya [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=cTymGi6qNrg

Tinggalkan Balasan