
Di tengah perkembangan musik eksperimental Indonesia, hanya sedikit musisi yang menjadikan tradisi sebagai ruang penelitian yang terus bergerak. Sebagian besar eksplorasi musik tradisi berhenti pada upaya mengawinkan instrumen tradisional dengan perangkat modern. Namun, bagi Teguh Permana, eksplorasi bukan sekadar persoalan bunyi. Ia memandang tradisi sebagai cara berpikir, sistem pengetahuan, sekaligus pengalaman spiritual yang harus dipahami sebelum dikembangkan.
Pandangan tersebut menjadi fondasi lahirnya Tarawangsawelas, sebuah proyek artistik yang sejak 2011 terus mengeksplorasi kemungkinan baru dalam musik Tarawangsa tanpa memutus hubungan dengan akar budayanya di Rancakalong, Sumedang. Dalam wawancara detik jabar, Teguh menjelaskan bahwa Tarawangsawelas pada awalnya bukanlah kelompok pertunjukan, melainkan ruang belajar.
“Tarawangsawelas dibentuk atas dasar kecintaan terhadap kesenian Tarawangsa. Awalnya grup ini adalah sebuah laboratorium bagi siapa pun untuk belajar langsung ke pusatnya di Rancakalong (Sumedang).”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa eksplorasi yang dilakukan Teguh berangkat dari proses belajar kepada komunitas pemilik tradisi. Ia tidak memulai dari keinginan menciptakan musik baru, melainkan dari upaya memahami praktik ritual, filosofi, hingga relasi masyarakat agraris Sunda dengan bunyi Tarawangsa.
Tradisi sebagai Pengetahuan Hidup
Perjalanan Teguh bermula ketika menempuh pendidikan karawitan di ISBI Bandung. Ketertarikannya terhadap gamelan kemudian bergeser ketika menemukan instrumen Tarawangsa yang saat itu jarang dimainkan. Dalam sebuah wawancara, ia mengenang proses tersebut.
“Suatu hari saya menemukan tarawangsa. Dari situlah semuanya dimulai.”
Penemuan tersebut membawanya memasuki kehidupan masyarakat Rancakalong. Di sana ia tidak hanya mempelajari teknik memainkan instrumen, tetapi juga memahami fungsi Tarawangsa sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada Dewi Sri, leluhur, dan siklus pertanian masyarakat Sunda. Tradisi ini tidak dipandang sebagai pertunjukan, melainkan sebagai praktik budaya yang menyatukan manusia, alam, dan spiritualitas.
Kesadaran inilah yang membedakan karya Teguh dari kebanyakan proyek eksperimental lainnya. Ia tidak mengangkat Tarawangsa semata-mata sebagai identitas lokal, tetapi sebagai sistem pengetahuan yang masih relevan untuk dibaca ulang pada masa kini.
Dari Ritual Menuju Eksperimen Bunyi

Transformasi Tarawangsawelas terjadi ketika Teguh mulai mempertanyakan bagaimana musik ritual dapat hadir di ruang dengar yang berbeda tanpa kehilangan nilai dasarnya. Efek elektronik, drone, ambient, improvisasi, serta manipulasi ruang akustik mulai diperkenalkan sebagai medium baru, bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan memperluas cara orang mengalaminya.
Dalam wawancaranya dengan Popscotch, Teguh menegaskan bahwa proyek Tarawangsawelas memang berbeda dari praktik ritual Tarawangsa.
“Kami menghormati ritual itu, tetapi proyek musik ini berbeda dari upacara Tarawangsa tradisional.”
Pernyataan tersebut menunjukkan posisi estetik Teguh yang cukup jelas. Ia tidak mengklaim sedang merepresentasikan ritual, tetapi sedang membangun ruang artistik baru yang tetap menghormati asal-usulnya. Pendekatan ini menjadikan Tarawangsawelas berada di antara dua dunia, tradisi dan eksperimentasi.

Eksplorasi tersebut tidak berhenti pada pencarian tekstur bunyi. Teguh juga memperlakukan waktu, keheningan, resonansi, dan repetisi sebagai elemen komposisi. Pendekatan itu membuat karya-karyanya sering disejajarkan dengan praktik drone music, minimalisme, maupun ambient, meskipun fondasi musikalnya tetap berpijak pada struktur permainan Tarawangsa.

Ulasan terhadap album Wanci bahkan mencatat bahwa musik Tarawangsawelas berkembang perlahan, membangun suasana meditatif yang mengingatkan pada tradisi minimalisme modern.
Membawa Tarawangsa ke Ruang Global
Jejak eksplorasi Teguh semakin luas ketika bertemu etnomusikolog Palmer Keen dan produser Rabih Beaini, pendiri Morphine Records di Berlin. Pertemuan tersebut membuka jalan bagi Tarawangsawelas tampil di berbagai festival internasional dan kemudian merilis album Wanci.
Sejak 2017, Tarawangsawelas tampil di berbagai ruang pertunjukan seperti Europalia, Meakusma Festival, Berghain, Korzo Theater, Vooruit, Marsèll Paradise, hingga berbagai kota di Italia, Belgia, Belanda, Denmark, Swiss, Thailand, Taiwan, dan Jerman. Pada 2023 mereka kembali melakukan tur Eropa sekaligus merekam album baru di Berlin bersama Morphine Records.
Menariknya, kehadiran Tarawangsa di panggung internasional tidak diposisikan sebagai representasi eksotisme budaya Indonesia. Justru melalui eksplorasi bunyi, Teguh memperlihatkan bahwa musik ritual Sunda dapat berdialog secara setara dengan praktik musik eksperimental dunia.

Kolaborasi terbarunya bersama Heith dan melahirkan album (Duori) memperlihatkan kecenderungan tersebut. Tarawangsa tidak lagi hadir sebagai instrumen “tradisional” dalam pengertian folkloristik, tetapi sebagai medium penciptaan bunyi eksperimentasi yang tetap membawa memori budaya asalnya.
Eksplorasi sebagai Bentuk Pelestarian
Salah satu kontribusi penting Teguh Permana adalah mengubah cara pandang terhadap pelestarian. Baginya, menjaga tradisi tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara utuh. Tradisi justru tetap hidup ketika mampu melahirkan pembacaan baru tanpa menghilangkan nilai yang mendasarinya.
Melalui Tarawangsawelas, Teguh memperlihatkan bahwa eksplorasi bukanlah lawan dari pelestarian. Eksplorasi menjadi cara agar Tarawangsa terus berbicara kepada generasi baru, memasuki ruang-ruang artistik yang sebelumnya tidak pernah disentuh, sekaligus memperkenalkan filosofi masyarakat Sunda kepada khalayak internasional.
Jejak artistiknya menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari penghormatan yang mendalam terhadap tradisi. Dalam konteks itu, Teguh Permana bukan hanya seorang pemain Tarawangsa, melainkan penjelajah bunyi yang membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar spiritual dan pengetahuan yang membentuknya.
Pustaka
Azis, N. (2023, 10 November). Kala musik Tarawangsa Sumedang jelajahi kota-kota di Eropa. detikJabar. https://www.detik.com/jabar/budaya/d-7028387/kala-musik-tarawangsa-sumedang-jelajahi-kota-kota-di-eropa
Azis, N. (2023, 12 November). Saat seni Tarawangsa Sumedang pincut label rekaman Jerman. detikJabar. https://www.detik.com/jabar/budaya/d-7032099/saat-seni-tarawangsa-sumedang-pincut-label-rekaman-jerman
Direktorat Jenderal Kebudayaan. (n.d.). Tarawangsa: Kesenian tradisional Kabupaten Sumedang. Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/tarawangsa-kesenian-tradisional-kabupaten-sumedang/
Monteanni, L., Permana, T., & Priadji, G. (2020, February 26). The dance of the cosmos: Tarawangsa, the art of honoring. The Attic. https://theatticmag.com/reports/2307/the-dance-of-the-cosmos%253A-tarawangsa%252C-the-art-of-honoring.html
Permana, T. (2015). Narawang Mangsa (Skripsi Sarjana). Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.
Permana, T. (2026). ULAG GALU [Album digital]. Bandcamp. https://teguhpermana.bandcamp.com/album/ulag-galu
Popscotch. (n.d.). Tarawangsawelas interview. https://popscotch.org/tarawangsawelas-interview/
Suryaman, A., Masyuning, M., & Herizal, M. (2023). Eksistensi seni Ormatan Tarawangsa: Fungsi Tarawangsa di tengah ekosistem masyarakat Banjaran. Paraguna: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Seni, 10(2), 36–50. https://doi.org/10.26742/paraguna.v10i2.2944
The Jakarta Post. (2018). Album review: Wanci by Tarawangsawelas. https://www.thejakartapost.com/life/2018/03/02/album-review-wanci-by-tarawangsawelas
Zero. (2023). Tra tradizione e sperimentazione: Una nuova wave del Tarawangsa. https://zero.eu/it/persone/tra-tradizione-e-sperimentazione-una-nuova-wave-del-tarawangsa/

Tinggalkan Balasan