
Nama Upit Sarimanah tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan seni suara Sunda pada pertengahan abad ke-20. Ia dikenal sebagai pesinden dan salah satu suara penting yang mengisi ruang musik Sunda melalui radio dan rekaman. Namun, menempatkan Upit semata-mata sebagai “pesinden terkenal” justru membuat perjalanan artistiknya menjadi terlalu sederhana. Di balik popularitasnya terdapat sebuah proses yang lebih menarik, yaitu tentang bagaimana seorang penyanyi perempuan bergerak melintasi genre, medium, dan ruang sosial yang sedang berubah setelah Indonesia merdeka.
Andrew N. Weintraub, dalam kajiannya mengenai penyanyi perempuan Sunda, menempatkan Upit Sarimanah bersama Titim Fatimah sebagai figur penting dalam pembentukan makna baru tentang identitas Sunda pada periode awal pascakemerdekaan hingga pertengahan 1970-an. Keduanya tidak hanya menyanyikan musik Sunda, tetapi ikut membentuk cara baru musik Sunda didengar, dipasarkan, dan dipertunjukkan.
Dengan demikian, perjalanan Upit menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai kisah seorang seniman, tetapi sebagai bagian dari sejarah perubahan, ketika tradisi kesenian Sunda mulai berhadapan dengan radio, industri rekaman, musik populer, dan gagasan tentang menjadi modern.
perjalanan Upit Sarimanah sebagai pesinden
Upit Sarimanah lahir dengan nama Suryamah pada 16 April 1928. Sejumlah sumber populer menyebut tempat kelahirannya sebagai Purwakarta, sementara sumber lain yang merujuk pada kajian Weintraub menyebut ia lahir di Sadang, Purwakarta. Ia kemudian berpindah bersama keluarganya ke Jakarta pada 1935.
Dunia musik bukan sesuatu yang baru bagi Upit ketika ia mulai dikenal. Pada dekade 1940-an, ia telah bersentuhan dengan berbagai bentuk musik populer. Weintraub mencatat bahwa Upit pernah bernyanyi bersama Orkes Lief Java, sebuah kelompok keroncong. Sumber-sumber biografis lainnya juga mencatat keterlibatannya dengan musik Hawaiian, keroncong, dan Melayu. Hal tersebut penting karena memperlihatkan bahwa perjalanan Upit tidak dimulai dari batas yang tegas antara “musik tradisional” dan “musik modern”. Sejak awal, ia justru tumbuh di antara berbagai bentuk musik yang beredar pada zamannya. Pengalaman tersebut kelak menjadi salah satu ciri penting kariernya. Upit bukan penyanyi yang hanya mempertahankan satu bentuk vokal atau satu jenis repertoar. Ia dapat bergerak dari musik populer menuju gamelan Sunda, dari keroncong menuju lagu-lagu Sunda, dan dari panggung pertunjukan menuju medium radio serta rekaman.
Pada periode awal kariernya, radio juga menjadi ruang penting. Setelah masa Hindia Belanda, ketika sistem radio kemudian bertransformasi menjadi bagian dari Radio Republik Indonesia (RRI), suara Upit semakin luas terdengar. Weintraub mencatat bahwa pada 1950-an Upit tampil dalam siaran RRI Jakarta dan menjadi penyanyi penting dalam kelompok gamelan Sunda di lembaga tersebut. Di sinilah perubahan besar terjadi, Sinden yang sebelumnya sangat bergantung pada ruang pertunjukan tertentu mulai memiliki kemungkinan untuk didengar oleh orang yang bahkan tidak berada di lokasi pertunjukan. Radio membuat suara tidak lagi sepenuhnya terikat pada tubuh, panggung, dalang, maupun kelompok kesenian yang mengiringinya. Suara Upit kemudian memasuki ruang yang jauh lebih luas.
Karakter SuARA dan otentisitas pesinden
Popularitas Upit pada 1950-an tidak hanya berasal dari kemampuannya menyanyikan lagu Sunda. Ia juga memiliki karakter suara yang oleh orang-orang sezamannya dianggap berbeda. Dalam kajian Weintraub, suara Upit digambarkan sebagai lemes dan ampuh, halus sekaligus memiliki daya tarik. Majalah Musika pada 1958 bahkan menggambarkan suaranya dengan istilah yang sangat tinggi, sementara musisi dan penyanyi lain mengenangnya sebagai suara “emas”. Menariknya, karakter vokal tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas publik Upit.
Pada masa itu, suara perempuan tidak lagi hanya hadir sebagai bagian dari keseluruhan pertunjukan gamelan atau wayang golek. Suara tersebut mulai menjadi sesuatu yang dapat dikenali secara individual. Nama penyanyi mulai memiliki nilai tersendiri. Hal ini terlihat dari semakin pentingnya posisi sinden dalam pertunjukan. Penelitian Weintraub mengenai sejarah sinden di Jawa Barat menunjukkan bahwa pada periode tersebut penyanyi perempuan dapat memperoleh popularitas dan penghasilan yang sangat besar. Dalam beberapa kasus yang dicatat James Brandon pada 1964, penghasilan sinden bahkan dapat mencapai lima sampai enam kali penghasilan dalang. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sinden bukan lagi sekadar pelengkap pertunjukan. Ia mulai menjadi Bintang panggung.
Upit adalah salah satu figur yang memperlihatkan perubahan tersebut dengan sangat jelas. Bahkan, pada pertengahan 1950-an, ketika penggunaan mikrofon mulai berkembang dalam pertunjukan gamelan Sunda, penyanyi perempuan menjadi pihak yang paling awal menggunakannya. Weintraub mencatat bahwa sebagai salah satu penyanyi paling populer pada masa itu, Upit menjadi figur penting dalam proses tersebut. Teknologi Mikrofon membuat suara dapat diperbesar, direkam, dan kemudian dapat disiarkan, dan didistribusikan semakin luas tanpa ada ruang dan waktu, sehingga suara seorang sinden tidak lagi harus berhenti hanya dalam penampilan di atas panggung. Dengan demikian, modernitas yang Upit alami bukan hanya pada persoalan gaya bernyanyi yang ia ciptakan. Tetapi juga berkaitan dengan perubahan cara suara diproduksi dan diedarkan.
Menyeberangi Tradisi, Modern, Hingga Populer
Salah satu aspek paling menarik dari Upit adalah kemampuannya berpindah dari satu dunia musik ke dunia musik lainnya. Ia dapat menyanyikan lagu Sunda dalam sajian kiliningan, kacapian, bahkan sajian wayang golek, tetapi pada saat yang sama memiliki pengalaman dengan keroncong dan musik populer. Ia juga pernah tampil dalam kelompok musik yang memainkan repertoar di luar musik Sunda. Weintraub mencatat bahwa Upit bahkan terlibat dalam orkes Simfoni RRI pimpinan Iskandar bersama penyanyi nasional seperti Sam Saimun, Alwi Oslan, dan Bing Slamet. Perjalanan semacam ini memperlihatkan bahwa kategori “penyanyi tradisional” sebenarnya terlalu sempit untuk menggambarkan dirinya.
Upit hidup pada masa ketika batas antara tradisi dan modernitas sedang dinegosiasikan. Musik Sunda mulai hadir melalui teknologi yang sebelumnya bukan bagian dari praktik tradisionalnya. Radio memperluas pendengar. Piringan hitam mengubah cara musik dikonsumsi. Orkes dengan instrumen Barat berdampingan dengan gamelan. Penyanyi Sunda mulai tampil sebagai individu dengan nama, gaya, dan citra yang dapat dipasarkan. Dalam konteks inilah Weintraub menggunakan konsep “Sunda modern”. Menurutnya, modernitas dalam seni pertunjukan Sunda pada periode tersebut justru terbentuk melalui kemampuan seniman untuk melakukan branch out dan cross over, yaitu memasuki bahasa nasional, genre musik global, teknologi baru, dan bentuk presentasi baru tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas kesundaannya. Dan Upit menjadi contoh yang menarik dari proses tersebut.
Ia tidak harus meninggalkan kesundaan untuk menjadi modern. Sebaliknya, kesundaannya justru menjadi salah satu bahan yang dibawa ke dalam modernitas. Inilah yang membuat perjalanan Upit penting untuk dibaca kembali. Modernisasi musik Sunda ternyata tidak selalu berlangsung melalui penciptaan sesuatu yang sepenuhnya baru. Ia juga berlangsung ketika seniman mengambil sesuatu yang sudah ada, kemudian membawanya memasuki medium, ruang, dan cara dengar yang baru.
Kariernya kemudian memasuki fase berbeda. Sumber-sumber biografis menyebut bahwa pada dekade 1970-an aktivitas panggungnya mulai berkurang. Ia kemudian aktif dalam kegiatan dakwah dan tetap berkegiatan di lingkungan masyarakat. Ia juga tercatat sebagai pegawai negeri di lingkungan RRI dan pada akhirnya pensiun pada 1990. Sampai pada akhirnya, Upit Sarimanah meninggal pada 11 Februari 1992. Namun, kematiannya tidak serta-merta mengakhiri perjalanan suaranya. Rekaman-rekamannya terus beredar, dan pada 2025 sebuah album Upit Sarimanah yang sebelumnya dirilis oleh Mesra Records kembali diedarkan melalui LaMunai Records, menunjukkan bahwa arsip suara Upit masih memiliki kehidupan di luar konteks zamannya.
Upit dan Persoalan Modernitas Musik Sunda
Membaca kembali Upit Sarimanah hari ini berarti membaca ulang pertanyaan yang lebih besar, yaitu seperti apa sebenarnya modernitas dalam musik Sunda? Modernitas sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang dari luar tradisi, teknologi baru, instrumen Barat, industri rekaman, radio, atau bentuk musik populer. Tetapi perjalanan Upit memperlihatkan persoalan yang lebih kompleks. Ia tidak meninggalkan kesenian Sunda untuk menjadi penyanyi modern. Justru melalui suara Sunda, ia memasuki ruang modern. Di sinilah nilai penting Upit Sarimanah sebagai objek sejarah seni. Ia menunjukkan bahwa perubahan dalam kesenian tidak selalu terjadi karena seniman mengganti seluruh bentuk lama dengan bentuk baru. Perubahan dapat terjadi melalui pergeseran medium, konteks, cara penyajian, teknologi, dan posisi sosial senimannya.
Seorang sinden yang dahulu identitasnya terutama melekat pada pertunjukan kemudian dapat menjadi nama yang dikenal melalui radio dan piringan hitam. Suaranya dapat dipisahkan dari ruang pertunjukan dan didengarkan kembali oleh orang lain di tempat yang berbeda. Repertoarnya dapat bergerak dari tradisi gamelan, kacapian, keroncong, musik populer, hingga bentuk-bentuk lain. Karena itu, Upit Sarimanah barangkali lebih tepat dipahami bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi sebagai salah satu seniman yang ikut mengubah cara tradisi itu hadir. Dan mungkin justru di situlah letak pentingnya. Seni tradisi tidak selalu bertahan karena bentuknya tidak berubah atau tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Kadang ia bertahan karena ada seniman yang berani membawanya memasuki dunia yang berbeda. Upit Sarimanah adalah salah satu contohnya.
Tulisan oleh Wildan Waliyudin
Referensi
Weintraub, A. N. (2025). “Sunda modern”: Gendered modernity in Sundanese performing arts. Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.17510/wacana.v26i1.1803 Anggicau. (2016, January 31).
Upit Sarimanah. Komunitas Aleut. https://komunitasaleut.com/2016/01/31/upit-sarimanah/

Tinggalkan Balasan