
Haji Raden Tubagus Koko Koswara, atau yang akrab dikenal sebagai Mang Koko, lahir di Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 10 April 1917. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan Siti Hasanah dan Muhammad Ibrahim Sumarta, keturunan Sultan Banten sekaligus juru mamaos Ciawian dan Cianjuran. Dari ayahnya, Mang Koko kecil belajar seni tembang Sunda bukan melalui notasi, melainkan lewat pendengaran dan peniruan langsung (ngapalkeun sora). Cianjuran (atau tembang Sunda Cianjuran) adalah genre vokal khas Priangan yang menekankan pengendalian rasa (rasa lagu), ornamentasi vokal halus, dan keselarasan dengan iringan kacapi dan suling. Proses belajar ini menanamkan dan membentuk Mang Koko pada pengalaman kesadarannya akan rasa musikal kepekaan estetik yang kelak menjadi dasar eksplorasi musiknya.
Sejak remaja, Mang Koko mulai memainkan kacapi sebagai pengiring tembang ayahnya. Ketertarikannya tumbuh tidak hanya pada nyanyian, tetapi juga pada dialog antara suara manusia dan bunyi instrumen. Dari sini muncul minat awal terhadap hubungan timbal balik antara vokal dan instrumen yang menjadi salah satu gagasan dan ciri khas karya-karyanya beberapa tahun kemudian seperti Sekar Caturan dan Gending Karesmén.
Pendidikan Awal dan Pengaruh Musik Barat
Mang Koko menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Tasikmalaya, tempat ia mulai mengenal musik Barat dan dikenal sebagai pemain gitar ulung di lingkungan sekolahnya. Kurikulum kolonial yang menekankan logika dan pengetahuan ilmiah turut memengaruhi cara berpikir dan kepekaan musikalnya. Setelah lulus HIS, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Bandung. Di kota ini, selain aktif mempelajari karawitan Sunda, ia juga bergabung dengan The Yop Hawaiian Band dan Stek Orkes, memperluas pengetahuannya tentang harmoni dan struktur komposisi Barat. Pengalaman lintas tradisi ini memperkaya idiom musikalnya, yang kemudian tampak dalam karya-karya seperti Sekar Jenaka, Gamelan Wanda Anyar, dan Gending Karesmén.
Selain pendidikan formal, Mang Koko mengikuti kursus modern di Bandung, termasuk kursus mengetik sepuluh jari di KEOM (Kursus Europeesche Onderwijs Methode). Berdasarkan wawancara Tatang Benyamin Koswara (2010) yang dikutip Satriana (2014), teknik mengetik sepuluh jari tersebut menginspirasi gaya khas petikan kacapi Mang Koko yang dikenal sebagai petikan sepuluh jari. Teknik ini memungkinkan ia memainkan melodi dan ritme secara simultan, menghasilkan tekstur bunyi kompleks yang belum pernah ada sebelumnya dalam permainan kacapi.
Dari Sekar Jenaka, Perkumpulan Kanca Indihiang, hingga Yayasan Tjangkurileung
Kesadarannya terhadap keterbatasan tema dalam tembang Sunda tradisional mendorong Mang Koko untuk berkreatifitas. Ia menggagas ide agar tembang tidak hanya membicarakan ritual dan adat, tetapi juga kehidupan modern masyarakat Sunda tentang pekerjaan, olahraga, hingga percintaan rakyat sehari-hari. Gagasan ini melahirkan bentuk Sekar Jenaka juga ide gagasan kawih kawih yang sekarang dikenal dengan istilah Kawih Wanda Anyar, karya yang menggabungkan rasa musikal tradisi dengan tema sosial yang ringan dan komunikatif.
Pada 1946, ia mendirikan Perkumpulan Djenaka Sunda Kanca Indihiang, yang saat itu aktif mengisi siaran RRI Bandung dan Priangan Timur. Dari sini lahir bentuk-bentuk lagu baru yang berakar pada tradisi Cianjuran namun bernuansa rakyat, penuh humor, dan mengandung kritik sosial. Eksperimen ini menandai awal pembaruan karawitan Sunda menuju bentuk yang lebih dinamis.


https://www.iramanusantara.org/release/3963
Bersumber dari tulisan yang terdapat pada cover Vinyl “Gamelan Sunda” rilisan Lokananta Records yang diarsip oleh iramanusantara.com, pada masa itu rentang tahun 40-50 an, Mang Koko secara rutin mengisi berbagai acara di RRI Bandung, sekaligus mengadakan pertunjukan ke berbagai kota dengan rombongan seni yang ia bentuk dan pimpin sendiri. Di antaranya adalah Gamelan Mundinglaja (mulai tahun 1951), Rampak Sekar Setiaputra (paduan suara Sunda, mulai tahun 1954), dan Kliningan Ganda Mekar (mulai tahun 1956).
Ditahun 1949 Mang Koko juga mulai mendirikan beberapa lembaga pendidikan untuk pembinaan seni bagi anak-anak, seperti Taman Murangkalih (Taman kanak-Kanak) yang kemudian menjelma menjadi Taman Tjangkurileung di tahun 1950 .Selanjutnya mendirikan Taman Bintjarung pada tahun 1960, yang ditujukan bagi siswa sekolah dasar tingkat rendah. Setahun sebelumnya, ia meresmikan pendirian Yayasan Tjankurileung melalui akta notaris pada 1959. Yayasan ini menaungi beberapa bidang kegiatan, yaitu Taman Bintjarung, Taman Tjankurileung, dan Rampak Sekar, dengan cabang-cabang yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat.
Mang Koko dan Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung
Meski tidak memiliki pendidikan tinggi formal di bidang seni karena pada masanya perguruan tinggi seni belum tersedia, berkat reputasi akademik yang kuat, pengalaman dan inovasinya, Mang Koko menjadi pengajar tetap di Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung, dan pada 1965–1972 diangkat untuk menjabat sebagai direktur/Kepala Sekolah di Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung (Satriana, 2014). Di lingkungan akademik, ia memandang karawitan bukan sekadar tradisi, melainkan ruang penelitian dan eksperimen bunyi. Sebagai pendidik, Mang Koko terus mendorong para siswa untuk bereksperimen, mencari warna suara baru, dan menafsir ulang struktur gending. Dari pendekatan ini lahirlah konsep “gamelan wanda anyar”, yaitu bentuk gamelan dengan gaya, struktur, dan warna bunyi baru dengan pengeksplorasian konsep gamelan sunda dalam gamelan pelog slendro Jawa.
Dalam tulisan sebelumnya menunjukan bahwa kelompok kiliningan Ganda Mekar terbentuk di tahun 1956, tetapi beberapa sumber juga menjelaskan bahwa terbentuknya kelompok ini sekitar pertengahan 1960-an, setelah Mang Koko menjadi pengajar dan kepala sekolah di KOKAR Bandung sebagai wadah eksperimen musikal di luar ruang akademik. Kelompok ini berfungsi sebagai laboratorium tempat ia dan para murid KOKAR mengembangkan ide-ide baru karawitan Sunda. Melalui Ganda Mekar, Mang Koko menciptakan bentuk-bentuk komposisi baru seperti gending bubuka, gending macakal, dan gending panutup.
Sekar Caturan dan Gending Karesmén

Memasuki tahun 1970–1980-an, eksplorasi Mang Koko semakin liar hingga dalam beberapa tulisan menunjukan ini sebagai puncak kreasinya melalui karya Sekar Caturan dan Gending Karesmén. Sekar Caturan merupakan bentuk nyanyian yang liriknya berbentuk dialog, sering kali mengandung kritik sosial dan humor seperti dalam lagu Pilih Kanda, Patelak Swara, dan Umangkeuh (Windyagiri, 2024). Struktur musikalnya bebas, dengan instrumen seperti kacapi, suling, dan gamelan berperan aktif dalam dialog bunyi.
Karya ini menjadi cikal bakal bentuk Gending Karesmén opera Sunda yang menggabungkan unsur musik, sastra, dan teater. Beberapa karya terkenalnya antara lain Si Kabayan, Pangeran Jayakarta, Nyai Dasimah, Indung jeung Anak, dan Umangkeuh. Dalam bentuk ini, musik berfungsi sebagai struktur dramatik utama, menjadikan Mang Koko sejajar dengan komposer komposer dunia dalam pendekatan musik dan dramatik.
Akhir Hayat dan Warisan Intelektual
Menjelang akhir hayatnya (1983–1985), Mang Koko tetap aktif mengajar di KOKAR, memimpin Ganda Mekar, juga sebagai dosen luar biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung yang sekarang di kenal ISBI Bandung. Ia mulai menyusun dokumentasi karya dan konsep wanda anyar agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya (Ruswandi, 2020).
Membaca tulisan abizar pada blog bandungbergerak.id, “Gelar maestro tidak ujug-ujug dinobatkan pada Mang Koko tanpa alasan yang jelas. Kepiawaiannya dalam mencipta lagu, menggarap sekar gending, memainkan instrumen musik, dan mendidik yang membuat Mang Koko sampai pada tahap ini. Walaupun raga sudah tak tampak, namun ilmu dan semangat berkaryanya masih terasa sampai hari ini”.
Selain itu, juga terdapat sebuah pesan dari mang koko untuk para pemuda yang tertuang dalam tulisannya yang disampaikan pada Sawala Seni Karawitan Sunda yang di prakarsai oleh pemerintah daerah Kabupaten Cianjur Dasentra Bandung pada hari Sabtu 28 September 1985 yang berbunyi:
Khusus ka para nonoman seniman karawitan Sunda, ulah waka sugema duméh ngaraos parantos terampil di garapan vokal atanapi instruméntal, namung teras ngayakeun usaha ningkatkeun éta keterampilan bari sareng ngundeur élmu-élmu, supados ka payun mah langkung jembar sareng mekar dina ngayakeun kréasina.
Pesan tersebut merupakan penggalan dalam ceramahnya. Pada potongan ceramah Mang Koko juga tersirat pesan yang mengajak para anak muda untuk terus berkreasi. Mencurahkan seluruh kreativitasnya untuk kemajuan kesenian daerah. Ia tidak memutus rantai kreativitas. Kritikan pedas yang menyerangnya tidak ia lakukan lagi kepada para muridnya. Malahan menyulut semangat penerusnya untuk terus melanjutkan dan mempertahankan api semangat berkaryanya. Kreativitas yang dilakukan harus dibarengi pula dengan pengetahuan dan pengalaman musikal yang ideal. Sebagai seorang komposer, Mang Koko mampu menyeimbangkan hal itu.
Mang Koko wafat di Bandung pada 4 Oktober 1985 pada usia 70 tahun. Setelah kepergiannya, gagasan dan semangat pendidikannya dilanjutkan melalui Yayasan Cangkurileung, yang kini dipimpin oleh putrinya, Ida Rosida Koswara dan dibersamai keluarga dan murid murid dari Mang Koko sejak dulu. Yayasan ini berperan dalam pelestarian, dokumentasi, dan pengembangan karya-karya Mang Koko, memastikan warisan intelektual dan musikalnya tetap hidup sampai sekarang.
Penutup

Mang Koko Koswara adalah figur sentral dalam sejarah karawitan Sunda modern. Ia bukan hanya penggubah lagu dan pemain kacapi, tetapi juga pemikir dan pendidik musik yang berhasil menjembatani tradisi dengan modernitas. Melalui karya, lembaga, dan murid-muridnya, Mang Koko menanamkan pandangan bahwa musik Sunda bukan warisan statis, melainkan ruang yang terus berkembang untuk bereksperimen dan berpikir. Semangat pembaruan dan eksplorasinya masih bergema di dunia pendidikan dan kesenian Sunda hingga hari ini.
pustaka
Irama Nusantara. (n.d.). Album Gamelan Sunda (Gamelan Konservatori Karawitan Bandung / Kliningan Ganda Mekar). Diakses dari https://iramanusantara.org
Ruswandi, T. (2020). Mang Koko Koswara dan Pembaruan Karawitan Sunda: Dari Sekar Jenaka hingga Gending Karesmén. Bandung: Arsip Karawitan Sunda.
Satriana, I. (2014). Mang Koko Koswara: Pembaharu dalam Karawitan Sunda Modern. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.
Windyagiri, F. (2024). Sekar Caturan dan Transformasi Estetika Musik Sunda Modern. Bandung: Program Pascasarjana ISBI Bandung.
Abizar. (2020, 6 Oktober). Mang Koko: Sang Pembaru Karawitan Sunda. Bandung Bergerak. Diakses dari https://bandungbergerak.id
Wikipedia. (2025, Juli 14). Mang Koko. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Mang_Koko

Tinggalkan Balasan