
Sekilas Perjalanan Sejarah Pop Sunda 1990-2000-an
Perjalanan musik Pop Sunda tidak dapat dilepaskan dari pertemuan antara kebudayaan musikal Sunda dan perkembangan musik populer modern. Cipta & Kanumoyoso, (2022) dalam penelitiannya berjudul “Dinamika Budaya Musik Pop Sunda 1990-2000” menjelaskan bahwa Pop Sunda merupakan bentuk musik populer berbahasa Sunda yang memadukan unsur musik tradisi Sunda dengan instrumen serta idiom musik Barat. Dengan demikian, Pop Sunda sejak awal tidak hadir sebagai bentuk yang sepenuhnya terpisah dari tradisi, melainkan sebagai hasil inovasi dengan pengolahan unsur musikal yang telah hidup sebagai identitas kultural masyarakat Sunda.
Kemunculan awal Pop Sunda ditandai oleh aktivitas para seniman di Bandung pada dekade 1950-an. Salah satu pelopornya adalah kelompok Nada Kencana yang mengombinasikan lirik berbahasa Sunda dengan tangga nada diatonis dan instrumen Barat. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan perangkat musikal modern bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan identitas Sunda. Sebaliknya, perangkat tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan medium baru untuk menyampaikan bahasa, pengalaman, dan ekspresi masyarakat Sunda.
Pada dekade 1960-an hingga 1970-an, Pop Sunda terus berkembang melalui karya para pencipta lagu dan penyanyi seperti Kosaman Djaja, Mang Koko, Sambas Mangundikarta, Djuju Djauhari, Upit Sarimanah, Taty Saleh, Euis Komariah, Iyar Wirasih, dan Ety Barjah. Memasuki dekade 1980-an, muncul pula nama-nama seperti Nano S., Doel Sumbang, Uko Hendarso, dan Dose Hudaya. Periode ini menjadi penting karena Pop Sunda tidak hanya berkembang secara musikal, tetapi juga semakin kuat sebagai bagian dari industri rekaman dan budaya populer.
Cipta & Kanumoyoso menyebut dekade 1980-an hingga 1990-an sebagai masa kejayaan Pop Sunda. Pada periode tersebut, lagu-lagu berbahasa Sunda mampu menjangkau pendengar yang lebih luas, bahkan di luar wilayah Tatar Sunda. Popularitas ini terlihat dari keberhasilan lagu “Kalangkang” yang diproduseri Yan Ahimsa dan dinyanyikan Nining Meida, serta keterlibatan penyanyi yang sebelumnya dikenal melalui musik pop Indonesia, seperti Nia Daniaty dan Hetty Koes Endang, dalam rekaman lagu Pop Sunda. Grup Bimbo juga disebut pernah merekam lagu-lagu berbahasa Sunda. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Pop Sunda pernah menempati posisi penting dalam sirkulasi musik populer Indonesia, bukan hanya sebagai musik daerah yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal.
Dari segi bentuk, Pop Sunda juga tidak berkembang dalam satu pola yang tunggal. Cipta & Kanumoyoso mengutip pembagian yang melihat Pop Sunda melalui hubungan antara bahasa dan sistem musikalnya. Pertama, terdapat lagu berbahasa Sunda yang menggunakan tangga nada Sunda. Kedua, lagu dengan lirik campuran bahasa Sunda dan bahasa Indonesia yang tetap menggunakan tangga nada Sunda. Ketiga, lagu berbahasa Sunda yang menggunakan tangga nada Barat, termasuk lagu pop Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Pembagian ini memperlihatkan bahwa identitas Pop Sunda sejak awal bersifat lentur. Kesundaan dalam musik tidak hanya ditentukan oleh penggunaan instrumen tradisional, tetapi juga dapat hadir melalui bahasa, melodi, gaya vokal, tema, maupun cara sebuah karya mengolah unsur musikal dari luar.
Selain menghadirkan tema percintaan dan kehidupan sehari-hari, Pop Sunda juga menjadi medium untuk menyampaikan kritik sosial. Karya-karya Doel Sumbang, misalnya, dikenal memuat kritik terhadap persoalan sosial dan pemerintahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pop Sunda tidak semata-mata berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang artikulasi pengalaman masyarakat serta tanggapan terhadap situasi zamannya.
Namun, memasuki akhir 1990-an dan awal 2000-an, Cipta & Kanumoyoso mencatat adanya kemunduran dalam perkembangan Pop Sunda yang mereka kaitkan dengan persoalan plagiasi dan perubahan pola penyebaran musik melalui YouTube. Temuan ini perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika historis yang mereka kaji, bukan sebagai kesimpulan bahwa Pop Sunda sepenuhnya kehilangan pendengar atau berhenti berkembang. Justru, perubahan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan musik populer sangat dipengaruhi oleh perubahan teknologi, industri rekaman, pola distribusi, serta cara pendengar mengakses musik.
Dengan melihat perjalanan tersebut, Pop Sunda dapat dipahami bukan sebagai bentuk musik yang memiliki pakem tetap, melainkan sebagai praktik musikal yang terus bernegosiasi dengan perubahan zaman. Sejak kemunculannya, Pop Sunda telah memperlihatkan kemampuan untuk menggabungkan unsur lokal dengan perangkat modern, mengolah berbagai bentuk musikal, serta menyesuaikan diri dengan selera dan teknologi yang berkembang. Dalam konteks ini, persoalan Pop Sunda pada masa kini tidak cukup dilihat hanya dari pertanyaan apakah musik tersebut masih populer atau tidak, tetapi juga dari bagaimana ia menemukan kembali bentuk, medium, dan hubungan baru dengan pendengarnya.
Karya Swarantara sebagai Kemungkinan Bentuk Pop Sunda Masa Kini
Dalam kerangka perjalanan tersebut, Swarantara dapat dilihat sebagai salah satu kemungkinan arah perkembangan Pop Sunda masa kini. Kehadiran Swarantara penting bukan karena kelompok ini dianggap sebagai pengganti dari generasi Pop Sunda sebelumnya, melainkan karena praktik musikalnya memperlihatkan bahwa proses pertemuan antara unsur Sunda dan musik populer masih terus berlangsung. Jika pada periode sebelumnya Pop Sunda berkembang melalui pertemuan antara bahasa Sunda, instrumen tradisional, instrumen Barat, industri rekaman, dan selera pasar, maka Swarantara dapat ditempatkan dalam kesinambungan proses tersebut melalui pendekatan penciptaan dan produksi musik yang lebih terbuka terhadap berbagai kemungkinan bunyi serta teknologi digital.
Posisi Swarantara menjadi menarik ketika Pop Sunda tidak lagi dipahami hanya sebagai gaya musik yang identik dengan bentuk-bentuk populer pada masa kejayaannya. Pop Sunda dapat pula dipahami sebagai ruang penciptaan yang memungkinkan unsur musikal Sunda ditafsirkan ulang, dipertemukan dengan idiom masa kini, dan disampaikan melalui medium distribusi yang sesuai dengan kebiasaan pendengar masa kini. Hal yang patut diperhatikan dari pendekatan Swarantara bukan semata-mata keberadaan perpaduan genre, pertemuan berbagai idiom menunjukkan bahwa Swarantara tidak menempatkan Pop Sunda sebagai kategori yang tertutup. Unsur Sunda dapat bertemu dengan sumber musikal lain dan menghasilkan bentuk sajian yang berbeda. Dalam kerangka ini, eksplorasi bukan sekadar strategi untuk membuat musik tradisi terdengar “kekinian”, tetapi menjadi cara untuk memperluas kemungkinan estetis dari musik Sunda itu sendiri. Dengan demikian, upaya Swarantara tidak harus dibaca sebagai usaha untuk mengembalikan Pop Sunda ke bentuk masa lalu, tetapi sebagai kemungkinan untuk memperpanjang daya hidupnya melalui cara pengolahan yang berbeda.
Jika kita telusuri, perjalanan Swarantara bermula dari praktik sederhana membawakan ulang lagu-lagu Sunda melalui konten musik yang diunggah ke YouTube. Berdasarkan keterangan Sofyan Triyana yang dikutip dalam salah satu penelitian mengenai Swarantara, kelompok ini lahir pada 2020 dan pada awalnya memainkan lagu-lagu kawih Sunda tanpa banyak pengolahan aransemen. Seiring berjalannya waktu, Swarantara mulai mengembangkan materi cover tersebut melalui penataan musik dan pencarian karakter bunyi yang lebih personal. Lagu-lagu yang sebelumnya hanya dibawakan ulang kemudian diolah menjadi sajian dengan pendekatan baru, sehingga aktivitas cover tidak lagi sekadar menjadi bentuk reproduksi karya terdahulu, tetapi juga menjadi ruang eksperimentasi musikal. Perkembangan ini turut didukung oleh penggunaan media digital, terutama YouTube, yang memungkinkan karya mereka menjangkau pendengar lagu Sunda secara lebih luas.
Tahap berikutnya ditandai oleh pergeseran dari interpretasi karya orang lain menuju penciptaan materi original. Perubahan tersebut terlihat melalui album Romantika, yang memuat sejumlah lagu karya Swarantara dan kolaborasinya dengan beberapa penyanyi, mini album Paguneman, serta single terbarunya Sang Putri Citraresmi. Hal ini menunjukkan bahwa Swarantara mulai menempatkan diri bukan hanya sebagai kelompok yang mempopulerkan kembali lagu Sunda, tetapi juga sebagai pelaku dalam penciptaan musik baru berbahasa Sunda.
“Sang Putri Citraresmi” dan Perluasan Imajinasi Pop Sunda
“Sang Putri Citraresmi” featuring Alivia Mutiara Ayu, menjadi salah satu lagu pop Sunda yang kembali mereka hadirkan sebagai rilisan single. Berdasarkan press rilis yang diterbitkan pada 13 September 2026, karya tersebut berangkat dari Kidung Sundayana dan menjadikan kisah Citraresmi serta Perang Bubat sebagai pijakan utama. Namun, Swarantara tidak berhenti pada penceritaan kembali. Bagian akhir karya dikembangkan melalui sudut pandang Hayam Wuruk sebagai interpretasi fiksional terhadap sisi personal tokoh tersebut. Di titik ini terjadi perluasan yang menarik. Eksplorasi Pop Sunda tidak hanya berlangsung pada bunyi, tetapi juga pada narasi.
Jika bentuk Pop Sunda sebelumnya banyak beroperasi melalui tema percintaan, kehidupan sehari-hari, atau kritik sosial, sebagaimana terlihat dalam perkembangan historisnya, maka “Sang Putri Citraresmi” membuka kemungkinan lain, yaitu musik populer berbahasa Sunda dapat menjadi medium untuk membawa kembali narasi sastra dan sejarah ke dalam pengalaman mendengar masa kini. Yang dilakukan Swarantara bukan sekadar mengambil cerita lama kemudian menjadikannya lirik lagu. Mereka menggunakan cerita tersebut sebagai bahan interpretasi. Kehadiran perspektif Hayam Wuruk yang dinyatakan sebagai fiksional menunjukkan bahwa karya ini secara sadar menciptakan ruang antara sumber cerita dan kebebasan artistik.
Secara artistik musikal, karya ini mencerminkan karakter aransemen Swarantara yang terbuka terhadap berbagai pendekatan baru dalam musik Sunda. Eksplorasi tersebut antara lain terlihat melalui pengolahan akor dan modulasi tonalitas, serta penggunaan instrumentasi yang tidak terbatas pada soundbank keyboard seperti gaya pop Sunda pada umumnya, tetapi juga melibatkan string orkestra, klarinet, dan bunyi-bunyi elektronis. Di sisi lain, kehadiran instrumen Sunda tidak terkesan sekadar ditempelkan sebagai penanda identitas lokal. Swarantara justru mampu meramu instrumen Sunda dan instrumen modern ke dalam satu kesatuan tafsir artistic musikal. Dengan demikian, perpaduan tersebut tidak berhenti pada penambahan warna bunyi, tetapi menjadi bagian dari proses penciptaan karakter musikal yang utuh.
Di sinilah “Sang Putri Citraresmi” menjadi relevan untuk dikaji sebagai studi kasus Pop Sunda masa kini. Lagu tersebut memperlihatkan bahwa sumber budaya tidak harus dipertahankan dalam bentuk asalnya agar tetap dapat dipahami sebagai bagian dari kebudayaan Sunda. Sebaliknya, sumber budaya dapat ditempatkan sebagai material kreatif yang ditafsirkan kembali melalui bahasa musik populer, tanpa harus kehilangan keterhubungannya dengan latar kebudayaan yang melahirkannya.
Pop Sunda Tidak Harus Kembali ke Masa Kejayaannya
Jika demikian, persoalan Pop Sunda bukanlah bagaimana mengembalikan musik ini persis seperti masa kejayaannya pada 1980-an atau 1990-an. Upaya semacam itu justru berisiko menjadikan sejarah sebagai formula. Yang lebih penting adalah memahami mekanisme yang pernah membuat Pop Sunda dapat menjadi popular, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi, selera pendengar, industri, dan perkembangan estetika musik pada masanya. Sejarah musik Sunda modern memperlihatkan bahwa proses tersebut selalu terjadi. Radio pernah menjadi medium baru yang memungkinkan musik Sunda beradaptasi dengan modernitas. Kemudian industri rekaman memperluas sirkulasinya. Kini platform digital membuka ruang yang berbeda lagi.
Swarantara dapat ditempatkan dalam rangkaian sejarah tersebut. Eksplorasi mereka terhadap berbagai idiom musikal, penggunaan teknologi, dan pemanfaatan media digital menunjukkan bahwa Pop Sunda masih dapat bergerak mengikuti perubahan lingkungan musik. Beberapa penelitian yang menyoroti karya-karya Swarantara bahkan secara eksplisit menempatkan aktivitas Swarantara sebagai upaya mempopulerkan kembali lagu Sunda melalui media digital. Karena itu, mungkin persoalannya bukan bahwa Pop Sunda telah kehilangan popularitas, melainkan bahwa cara menjadi populer telah berubah.
Pada masa tertentu, sebuah lagu dapat menjadi populer karena diputar berulang kali di radio atau beredar melalui industri rekaman. Hari ini, sebuah lagu harus berhadapan dengan algoritma, playlist, video pendek, identitas visual, kolaborasi, komunitas, dan begitu banyak bentuk musik lain yang tersedia dalam satu ruang digital. Dalam situasi seperti itu, keberlangsungan Pop Sunda membutuhkan lebih dari sekadar mempertahankan penggunaan bahasa Sunda. Ia membutuhkan keberanian untuk terus bereksperimen.
Sang Putri Citraresmi menunjukkan salah satu kemungkinan tersebut. Kisah yang berasal dari Kidung Sundayana tidak ditempatkan sebagai artefak dan sejarah yang hanya diarsipkan, tetapi sebagai sumber penciptaan yang dapat menghasilkan bunyi dan perspektif baru. Dengan demikian, keberlanjutan Pop Sunda mungkin tidak terletak pada usaha untuk membuatnya kembali seperti dahulu, tetapi pada kemampuannya untuk terus menjadi musik populer pada zamannya sendiri. Bukan kembali ke masa lalu, melainkan membawa sumber-sumber Sunda ke tempat yang belum pernah ditujunya.
Tulisan oleh Wildan Waliyudin
Referensi
Achmad, S. W. (2019). Perang Bubat (1279 Saka): Membongkar fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit. Araska.
Cipta, S. E., & Kanumoyoso, B. (2022). Dinamika budaya musik Pop Sunda 1990–2000. Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 5(2), 191–198. https://doi.org/10.17509/historia.v5i2.40598
Permana, D. S. (2025). Kreativitas Sofyan Triyana dalam album Romantika kelompok Swarantara [Skripsi sarjana, Institut Seni Budaya Indonesia Bandung]. Repositori ISBI Bandung. https://repo.isbi.ac.i
Ridwan, I. (2014). The art of the arranger in Pop Sunda, Sundanese popular music of West Java, Indonesia [Doctoral dissertation, University of Pittsburgh]. D-Scholarship@Pitt. https://d-scholarship.pitt.edu/concern/etds/41651f69-1bc9-4d9c-8a79-44cdf19a5e82
Swarantara. (2026, September 13). Sang Putri Citraresmi [Press release].
Apple Music. (n.d.). Swarantara. Retrieved September 14, 2026, from https://music.apple.com/us/artist/swarantara/1744028029

Tinggalkan Balasan