
Dalam khazanah karawitan Sunda, kiprah kreatif Koko Koswara (Mang Koko) menandai sebuah fase penting ketika inovasi musikal tidak hanya menghasilkan bentuk artistik baru, tetapi juga bertransformasi menjadi tradisi yang mendapat legitimasi sosial. Fenomena sekar jenaka dan wanda anyaran menjadi dua representasi utama dari proses tersebut. Untuk membaca transformasi ini secara akademik, diperlukan kerangka teoretis tentang hubungan antara inovasi, konservasi, dan proses pelembagaan tradisi.
Melalui perspektif Eric Hobsbawm, Margaret Kartomi, dan Bruno Nettl, kita dapat melihat bahwa tradisi tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan melalui dialektika kreatif yang sering kali berangkat dari upaya inovatif yang justru pada awalnya dipandang “melampaui pakem.”
Teori Hobsbawm : Tradisi sebagai Konstruksi Sosial
Eric Hobsbawm dalam The Invention of Tradition (1983) menyatakan bahwa tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga “diciptakan” untuk merespons kebutuhan sosial, identitas, atau estetika kelompok tertentu. Tradisi, menurutnya, sering kali merupakan hasil dari proses seleksi, penyederhanaan, dan pengulangan suatu praktik hingga ia dianggap “warisan.”
Selanjutnya upaya inovasi yang Mang Koko lakukan mengalami tiga proses penting yang digambarkan oleh teori Hobsbawm:
- Institusionalisasi, Karya-karya Mang Koko mulai dipelajari di institusi formal (Konservatori, sekolah seni, sanggar), diajarkan oleh generasi pengrawit berikutnya, dan masuk ke dalam kompetisi pasanggiri.
- Legitimasi Kultural, Muncul penerimaan kolektif atas gaya “wanda anyaran” sebagai salah satu identitas sah dalam konteks karawitan Sunda modern.
- Repetisi dan Kodifikasi, Pola garap, struktur gending, hingga ornamentasi vokal mulai mengalami kodifikasi melalui notasi, rekaman, dan praktik pedagogis.
Dengan demikian, Sekar Jenaka dan Wanda Anyaran memenuhi kriteria tradisi yang “diciptakan” menurut Hobsbawm, ia lahir dari inovasi, tetapi diterima dan diulang sehingga memperoleh legitimasi tradisi.
Teori Kartomi: Perubahan dalam Musik Etnis dan Tantangan Konservasi
Margaret Kartomi (1990) dalam On Concepts and Classifications of Musical Instruments dan sejumlah tulisannya mengenai musik Asia Tenggara menekankan bahwa musik tradisional adalah sistem terbuka yang selalu mengalami negosiasi antara konservasi dan transformasi. Ia menolak pandangan bahwa musik tradisi harus statis, tetapi sebaliknya, musik tradisi dapat dipahami sebagai entitas yang selalu beradaptasi terhadap konteks sosial, politik, dan estetika.
Perspektif Kartomi membuka pandangan terkait tradisi yang dipahami sebagai entitas yang beradaptasi, hal tersebut juga dilakukan Mang Koko sehingga terciptalah karya karya Sekar Jenaka dan Wanda Anyaran.
- Sekar jenaka merupakan bentuk kawih sunda yang Mang Koko ciptakan dari keterbatasan atas lagu lagu tembang sunda (yang pada saat itu sedang populer tembang sunda cianjuran) yang selalu berbicara tentang ritual dan adat, sehingga mang koko memperluas hal tersebut sampai terciptalah bentuk “sekar jenaka” yang membahas juga kehidupan modern di masyarakat seputar pekerjaan, olahraga, sampai percintaan.
- Wanda Anyaran terbagi menjadi dua kategori pembawaan, pertama dalam Kawih yang disebut Kawih Wanda Anyar yang merupakan kreatifitas lanjutan dari bentuk Sekar Jenaka yang selanjutnya dirancang seproper mungkin secara struktur lagu dari garap instrumen sampai lirik dan pembawaan vokal yang lebih ekspresif berkaitan dengan cerita dari lagu tersebut. selanjutnya Gamelan Wanda Anyar yang menunjukkan proses kreatifitas mang koko dalam merespon adanya seperangkat gamelan jawa dengan menerapkan konsep konsep gaya permainan gamelan sunda dan pola pola tabuhan baru yang mungkin hasil dari pengalaman apresiasi mang koko tehadap karya karya barat seperti The Beatles, maka pada saat mang koko berkreatifitas menciptakan gending gending gamelan wanda anyar, tak jarang beberapa orang saat itu mencengcenginya dengan sebutan gamelan beatles
Kartomi juga menegaskan bahwa perubahan seperti ini bukanlah bentuk “penyimpangan,” melainkan mekanisme dasar bagaimana budaya hidup bekerja. Namun ia juga mengingatkan adanya ketegangan: inovasi sering kali dianggap ancaman oleh kelompok konservatif karena perubahan dipersepsikan sebagai hilangnya otoritas bentuk lama.
Hal ini sejalan dengan reaksi terhadap karya Mang Koko penerimaan sekaligus resistensi yang mencerminkan dinamika internal masyarakat seni tradisi.
Teori Nettl: Continuity and Change dalam Musik Tradisi
Bruno Nettl (2005) menyatakan bahwa musik tradisi selalu bergerak antara dua kutub: continuity (kesinambungan) dan change (perubahan). Tidak ada tradisi yang murni statis, yang ada adalah “perasaan stabil” yang dibangun melalui pengulangan praktik tertentu, walaupun praktik itu sendiri merupakan hasil adaptasi berkelanjutan.
Kerangka ini sejalan dengan fenomena yang terjadi pada Mang Koko. Gaya garapnya berangkat dari pengalaman empiris terhadap repertoar tradisi yang ia pelajari, kemudian dipertajam melalui proses pembelajaran formal maupun refleksi estetik terhadap kondisi karawitan Sunda pada masanya. Kombinasi antara pemahaman tradisi dan pemikiran kreatif tersebut secara bertahap membentuk identitas musikal baru yang khas. Dalam konteks inilah Mang Koko muncul sebagai inovator karawitan Sunda, terutama melalui pengembangan sekar jenaka dan wanda anyar, yang menandai transformasi penting dalam evolusi estetika karawitan Sunda.
Mengacu pada teori Nettl, bentuk kreatifitas Mang Koko terhadap sekar jenaka dan wanda anyaran tetap memperlihatkan dua sisi kutub tersebut dikarenakan ia memiliki pondasi yang kuat diantaranya.
- Continuity(kesinambungan) Mang Koko tetap mempertahankan sistem laras, prinsip estetika Sunda, serta rasa musikalnya.
- Change(perubahan) Ia memperkenalkan pola garap baru, nuansa ekspresif baru, serta vokal dan penulisan lirik yang lugas, serta pola pola gending gamelan yang lebih fleksibel.
Menurut Nettl, perubahan menjadi tradisi ketika:
- Dianggap bernilai oleh komunitasnya;
- Dipertahankan melalui pengajaran atau proses transmisi;
- Direproduksi dalam berbagai konteks pertunjukan.
Sekar Jenaka dan Wanda anyaran memenuhi ketiganya, sehingga dapat dikatakan bahwa inovasi Mang Koko telah memasuki fase tradisionalisasi.
Dialektika Inovasi & Konservasi: Pertentangan yang Semu
Salah satu gagasan penting dalam kajian tradisi adalah bahwa konflik antara inovasi dan konservasi bukanlah konflik ontologis, melainkan konflik persepsi. Apa yang tampak bertentangan sebenarnya saling membutuhkan.
- Tanpa konservasi, inovasi tidak memiliki fondasi untuk dibaca sebagai penyimpangan atau pembaruan.
- Tanpa inovasi, tradisi kehilangan kemampuan untuk hidup dan relevan.
Mang Koko berdiri tepat di antara dua garis itu. Inovasinya dianggap menggoyahkan kemapanan, tetapi justru karena itu ia membuka jalan bagi bentuk-bentuk tradisi baru. Ketika karya dan gayanya diterima secara luas, sekar jenaka dan wanda anyaran berubah status dari “inovasi” menjadi “tradisi baru.” Dengan demikian, pertanyaan apakah tradisi lahir dari inovasi dapat dijawab secara teoretis: tradisi memang selalu lahir dari inovasi yang dilembagakan.
Penutup: Tradisi sebagai Proses, Bukan Hanya Produk
Melalui kajian teoretis ini, dapat disimpulkan bahwa:
- Menurut Hobsbawm, sekar jenaka dan wanda anyaran adalah contoh tradisi yang “diciptakan” melalui proses institusionalisasi.
- Menurut Kartomi, perubahan yang dilakukan Mang Koko adalah bagian natural dari evolusi musik etnis.
- Menurut Nettl, sekar jenaka dan wanda anyaran merupakan titik negosiasi antara kesinambungan dan perubahan dalam musik tradisi.
Dengan demikian, fenomena sekar jenaka dan wanda anyaran membuktikan bahwa tradisi bukanlah karya masa lalu yang diam, melainkan rangkaian inovasi historis yang diberi tempat dalam memori budaya. Inovasi tidak bertentangan dengan konservasi, keduanya adalah dua mekanisme yang membentuk keberlanjutan seni tradisi. Mang Koko melalui karyanya telah menunjukkan bahwa tradisi terbaik adalah tradisi yang terus memberikan ruang bagi lahirnya bentuk-bentuk baru.
Pustaka
- Hobsbawm, E. J., & Ranger, T. (Eds.). (1983). The invention of tradition. Cambridge University Press. National Library of Israel+2WorldCat+2
- Kartomi, M. J. (1990). On concepts and classifications of musical instruments. University of Chicago Press.
- Nettl, B. (2005). The study of ethnomusicology: Thirty-three discussions (3rd ed.). University of Illinois Press.
- Suparli, L. (2010). Gamelan Pelog Salendro: Induk Teori Karawitan Sunda. Sunan Ambu STSI Press. search-jogjalib.jogjaprov.go.id
- Irawan, E., Soedarsono, R. M., & Simatupang, G. R. L. (Year). Karakter musikal lagu gedé kepesindenan karawitan Sunda. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan. (Catatan: lengkapi dengan volume, isu, halaman sesuai sumber asli) Online Journal of ISI Yogyakarta
- Ruswandi, T. (Year). Kreativitas Mang Koko dalam karawitan Sunda. Panggung. (Catatan: lengkapi dengan volume, isu, halaman) jurnal.isbi.ac.id
- Mustikawati, I. (Year). Penelusuran teknik penciptaan lagu anak menggunakan estetika karawitan Sunda. Paraguna. (Catatan: lengkapi dengan volume, isu, halaman) jurnal.isbi.ac.id
- Rudiana, M. (Year). Sundanese Karawitan and Modernity. Panggung. (Catatan: lengkapi dengan volume, isu, halaman) jurnal.isbi.ac.id
- Maulana, M. R., & Romadlana, R. S. (2025). Kajian kepesindenan Sunda: Analisis laras dan surupan dalam lagu “Tablo Kasmaran” karya Eutik Muchtar. Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik, 7(1), 41–54. musikolastika.ppj.unp.ac.id
- Satriana, R., Haryono, T., & Hastanto, S. (2014). Kanca Indihiang sebagai embrio kreativitas Mang Koko. Resital: Jurnal Seni Pertunjukan, 15(1), 32–42. 798-1148-1-SM (5)

Tinggalkan Balasan