
Pagelaran Swara Koswara, yang diselenggarakan pada 21 November 2025 di Plaza FPSD UPI Bandung dan dikelola oleh mahasiswa Pendidikan Seni Musik UPI angkatan 2025 bersama Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Musik UPI, menjadi sebuah peristiwa sekaligus penanda sejarah baru mengenai bagaimana karya-karya sekar jenaka Kanca Indihiang dapat dihadirkan kembali. Terlebih, penyajiannya melalui kemasan musikal baru dengan bentuk aransemen yang kreatif menunjukkan bahwa daya cipta Mang Koko Koswara terus hidup dan relevan hingga hari ini.
Penggunaan media gamelan pelog slendro, eksplorasi timbre, pendekatan lintas genre, hingga reinterpretasi pola kacapi memperlihatkan semangat kontinuitas dalam berkarya yang diwariskan Mang Koko kepada generasi komponis muda. Dengan konsep pementasan yang interaktif, para penggarap dan penampil berhasil menunjukkan bahwa karya Mang Koko bukan sekadar peninggalan, melainkan ruang terbuka bagi lahirnya kreasi baru yang tetap menjaga roh estetik asalnya.

Dalam gelaran pagelaran ini, hadir secara langsung Ibu Ida Rosida Koswara putri keenam Mang Koko yang memberikan apresiasi sebesar-besarnya atas terselenggaranya acara yang dapat disebut sebagai sebuah bentuk tribut bagi Mang Koko. Dalam pidato singkatnya, Ida Rosida menyampaikan bahwa
“Karya Kanca Indihiang ini dibuat sekitar tahun 1945, dan kini pada tahun 2025 karya-karya tersebut ditampilkan kembali. Ibu sangat berterima kasih atas upaya ini.”
Keberlangsungan acara ini menjadi kebanggaan bagi seluruh panitia penyelenggara maupun para apresiator. Ida Rosida juga menekankan pentingnya untuk terus berkreativitas, khususnya dalam melestarikan karya-karya Mang Koko. Ia bahkan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin mempelajari, mengkaji, atau menciptakan bentuk-bentuk baru yang terinspirasi dari karya Mang Koko.

Di balik suksesnya pertunjukan ini, terdapat sejumlah sosok yang berperan penting, khususnya para komposer dan music director (MD). Pada pagelaran ini terdapat empat komposer diantaranya Arif Rachman Hakim, Eki Oktavian, Rifki Arfian, dan Wildan Waliyudin serta M. Luthfi Alfaris sebagai music director.
Dalam proses kreatifnya, para komposer kerap berdiskusi dan tidak jarang merasa resah saat menggarap ulang karya legendaris ini. Mereka khawatir akan muncul penolakan dari pihak-pihak yang sangat concern, dan bersifat konservatif, atau cukup fanatik terhadap bentuk-bentuk garap baru dalam karya tradisional, apalagi ini karya legendaris. Namun melalui arahan MD M. Luthfi Alfaris, muncul sebuah pemahaman dalam forum diskusi bahwa:
“Karya Kanca Indihiang lebih menonjolkan aspek lirikal, sementara instrumentasinya cenderung tidak sekompleks garap kawih Wanda Anyar seperti Reumis Beureum, Dina Eurih, dan lainnya. Bahkan intronya pun sederhana, kadang hanya mengambil melodi dari bagian lagu aslinya. Karena itu, dalam penggarapan aransemen secara instrumentasi, silakan bereksplorasi sebebasnya dengan tetap mempertimbangkan konsep dan gagasan yang sesuai dengan karakter lagu aslinya.”
Berdasarkan serangkaian diskusi tersebut, para komposer akhirnya memberanikan diri untuk bereksplorasi secara lebih bebas, dengan menanamkan semangat kreativitas sebagaimana yang selalu dijalankan Mang Koko sepanjang perjalanan berkaryanya.
HAYAM JAGO
Arranger: Arif Rachman Hakim, S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Dalam karya ini, Mang Koko menghadirkan sebuah komposisi yang sangat luar biasa melalui pola melodi dan ritmik yang khas serta penggunaan teknik kacapi yang beragam. Secara garis besar, saya berupaya mengembangkan kembali karya tersebut dengan merancang iringan untuk tiga pemain menggunakan enam kacapi berlaras Salendro, Madenda 4 = Tugu, dan Madenda 4 = Galimer.
Instrumen yang digunakan terdiri atas lima kacapi siter dan satu kacapi rincik. Secara keseluruhan, pada bagian intro saya menerapkan teknik kacapi “kutukuya”, di mana melodi pokok dieksplorasi ulang dan diperkaya melalui pola caruk dari kacapi lainnya yang memainkan poliritmik serta teknik “pasieupan one hand”. Selain itu, eksplorasi juga dilakukan melalui pengolahan tempo dan perpaduan antar laras yang kemudian dirangkai menjadi pola melodi yang lebih eksploratif. Disamping itu, saya juga mengadaptasi pola ritmik dari instrumen drum sebagai sumber inspirasi ritmik.
Kemudian saya juga menerapkan teknik arpeggio serta sentuhan tabuhan salancar tembang, yang berfungsi memperkaya tekstur komposisi. Sementara itu, bagian vokal/sekar dirancang lebih eksploratif dengan menyesuaikan karakter laras yang digunakan pada keseluruhan permainan kacapi.
KATUMBIRI
Arranger : Wildan Waliyudin S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Dalam penggarapan aransemen karya Katumbiri, secara garis besar saya ingin bereksperimen dengan menggunakan beat-beat musik non-tradisi Sunda seperti samba/latin dan swing. Salah satu tujuannya adalah selain sebagai lahan eksplorasi juga sebagai upaya strategis agar karya ini dapat menarik perhatian audiens yang sudah familiar dengan karakter beat-beat tersebut. Namun, penggunaan unsur ritmis ini tentu tidak bisa sepenuhnya sama adengan bentuk aslinya.
Dalam proses penggarapan, saya melakukan riset terhadap berbagai kemungkinan pola gamelan yang dapat dimainkan dengan nuansa samba/latin dan swing pada beberapa bagian lagu, dan hasilnya seperti yang akan Anda dengarkan nanti. Secara teknis, pada bagian awal saya membuka musik dengan pola nada yang berurutan sebagai perumpamaan katumbiri (pelangi) itu sendiri menggunaan urutan nada. Selanjutnya, terdapat pola interaksi antara wilahan dan penclon yang menggambarkan bidadari yang turun dan saling bercakap, terinspirasi dari lirik pada lagu Katumbiri tersebut. Sebagai sajian repertoar pertama, saya juga menerapkan pola carukan kiliningan, dilanjutkan dengan pola jaipongan sebagai pengenalan pola pola tradisi dan kemudian dikembangkan dan masuk ke pola samba. Pada bagian reff, jika dalam versi aslinya vokal full menggunakan laras Mataraman, di sini saya mencoba bereksplorasi dengan menggunakan laras slendro pada reff pertama, lalu berpindah ke laras Mataraman pada reff kedua bersamaan dengan perpindahan gamelan ke laras pelog.
Setelah bagian balikan kedua, alur musik dibuat menurun untuk lebih menonjolkan lirik yang bersifat sedikit sarkastik terhadap kondisi seni tradisi, yang salah satunya, “Tradisi dipoyok, geus kuno, ortodok.” Bagian ini dinyanyikan oleh seluruh pemain sebagai bentuk refleksi dan sindiran terhadap realitas tersebut. Untuk mencapai klimaks, saya menerapkan beat yang terinspirasi dari swing, kemudian alur akhir musik dibuat semakin cepat sebagai puncak dari keseluruhan aransemen Katumbiri. Secara keseluruhan, konsep aransemen ini adalah membentuk lapisan-lapisan beat, pola, dan bagian yang saling berkaitan, menghadirkan satu kesatuan gagasan sebagai perumpamaan objek katumbiri.
Urang Kampung
Arrangger : Rifki Arfian S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Penggarapan Urang Kampung saya buat sesederhana mungkin namun tetap menciptakan kesan berbeda. Banyak pola iringan lagu yang saya adaptasi dari lagu original Urang Kampung, dan saya coba modifikasi orkestrasinya yang mana di lagu aslinya hanya kacapi lalu sekarang digubah dalam format gamelan.
Di bagian akhir, saya mencoba untuk mengadaptasi pola ritme perkusi latin ke dalam format gamelan dan bukan hanya rhythm section saja yang memainkan pola iringan tersebut namun seluruh section di dalamnya juga ikut berperan.
Ronda Malam
Arrangger : Rifki Arfian S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Secara garis besar, dari segi penggarapan saya berupaya mengeksplorasi berbagai variasi sukat dan pola poliritmik. Karya ini memuat cukup banyak perubahan sukat, dan pada beberapa bagian saya mencoba menggunakan pendekatan metric modulation, atau dengan kata lain yaitu perubahan pulse, tempo, dan subdivisi yang berdasarkan ritmik sebelumnya untuk menciptakan transisi yang lebih halus. Selain itu, saya juga mengeksplorasi berbagai kemungkinan timbre yang dapat dihasilkan dari gamelan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa laras salendro tidak menghasilkan disonansi ketika seluruh nadanya dimainkan secara bersamaan. Untuk mencoba membuktikan fenomena tersebut, saya mencoba membuat beberapa bagian dalam karya ini di mana seluruh pemain membunyikan nada secara acak dalam laras salendro.
BEUS KOTA
Arrangger : Wildan Waliyudin S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Dalam proses penggarapan aransemen lagu Beus Kota, seperti halnya yang saya lakukan pada lagu Katumbiri sebelumnya, saya ingin bereksperimen dengan beat-beat nontradisional. Secara khusus, dalam lagu Beus Kota ini saya mencoba mengeksplorasi beat R&B yang terinspirasi dari salah satu lagu pop. Selain itu, saya juga bereksperimen dengan penggunaan pola-pola triplet dan birama-birama irregular, juga pola-pola tutti (pola musik yang dimainkan bersama).
Pada bagian intro, terdapat penggabungan antara birama 3/8 dan 4/4, serta beberapa ketukan menggantung/kagok yang memberikan kesan dinamis. Selanjutnya, pada bagian verse, saya mengadaptasi karakter pola tabuhan macakal yang biasa dimainkan pada sajian gamelan Wanda Anyar, dengan gaya yang disesuaikan agar selaras dengan suasana pada bagian tersebut. Pada bagian reff, saya kembali menghadirkan beat R&B yang diadaptasi pada permainan gamelan. Setelah dua kali pengulangan, saya menyadari bahwa dalam upaya ini perlu keseimbangan antara konservasi dan inovasi, sehingga pada bagian ketiga saya menghadirkan bentuk asli dari komposisi lagu beus kota dengan penggunaan format kacapian.
Sebagai bentuk inovasi, selanjutnya pada bagian keempat saya kembali memasukkan unsur macakal tetapi dengan pola berbeda dari sebelumnya dengan penerapan pola-pola triplet serta penempatan birama irregular seperti 3/8 dan 4/4 di beberapa bagian. Pendekatan ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi vokal, terutama dalam pengucapan dan pemenggalan kata lirik yang tidak biasa, sehingga menghasilkan nuansa baru. Upaya ini bukan untuk “merusak” bentuk yang sudah ada, tetapi justru merupakan bagian dari eksplorasi. Saya berusaha mencari berbagai kemungkinan baru dalam aransemen harapannya agar dapat terdengar berbeda, tanpa menghilangkan bentuk aslinya, juga untuk menggali potensi unik dari berbagai kemungkinan.
Secara keseluruhan, konsep garapan aransemen ini berangkat dari esensi Beus Kota itu sendiri yang pada zamannya adalah sebuah alat transportasi baru yang muncul dan berkembang di masyarakat. Dari konsep tersebut, saya ingin mereinterpretasikan gagasan tentang adaptasi dan kebaruan tersebut ke dalam konteks musikal.
BADMINTON
Arrangger : Eki Oktavian S.Pd
(Wawancara bersama komposer) Dalam proses aransemen lagu Badminton, saya berupaya memperluas gagasan musikal dalam lagu aslinya ke dalam format gamelan melalui pengolahan berbagai aspek yang bersifat struktural dan performatif. Pada bagian interlude, saya menambahkan segmen quasi ad libitum, yaitu bagian permainan yang bersifat hampir bebas. Dalam segmen ini, para nayaga memainkan waditra masing-masing tanpa ketentuan tempo, pola ritmik, maupun melodi tertentu, kecuali piul dan suling yang tetap membawakan melodi pokok dengan tempo dan irama yang bebas.
Seluruh permainan berlangsung dalam kerangka kebebasan terarah, di mana saya hanya memberikan kendali dan batasan berupa mekanisme sahut-sahutan antar nayaga agar tekstur musikal tetap memiliki arah serta mampu menggambarkan situasi lapangan dan dinamika pada saat permainan badminton berlangsung; bergerak cepat dan tidak terduga. Perubahan birama dari 4/4 ke 6/8 saya hadirkan untuk memperluas ruang metrik sekaligus mendukung fleksibilitas pengembangan frasa melodi pokok yang telah saya rekonstruksi.
Selain itu, saya juga menerapkan beat yang menyerupai musik Latin sebagai beat utama pada bagian intro dan verse, serta menambahkan pola kendang mincid pada bagian reff untuk menghadirkan suasana yang lebih energik dan atraktif. Teknik carukan antara bonang dan rincik turut saya gunakan untuk memperkaya detail ritmis pada aransemen lagu Badminton ini.

Penutup
Pagelaran Swara Koswara tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, melainkan wujud penghormatan kreatif kepada Mang Koko Koswara. Melalui inovasi dan pendekatan aransemen yang beragam mulai dari eksplorasi laras, metrik, timbre, perpaduan lintas-genre, hingga reinterpretasi estetika sekar jenaka para arranger menunjukkan bahwa karya Mang Koko memiliki daya hidup yang kuat.
Tradisi tidak dibakukan, melainkan dirawat melalui keberanian berkarya. Swara Koswara menjadi bukti bahwa warisan musikal Mang Koko bukan hanya dikenang, tetapi terus berkembang, dinamis, dan relevan bagi generasi hari ini.

Tinggalkan Balasan